Halaman

Tampilkan postingan dengan label Tiyas Dwi Puspita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tiyas Dwi Puspita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2013

Tugas Akhir: Mengali Yang Terabaikan

Tiyas Dwi Puspita
 (12/340431/PSA/07415)

Pendahuluan
            Tulisan ini tercetus dari sebuah artikel pendek “TEMPAYAN KALIMANTAN MENURUT SEBUAH TEKS MELAYU TAHUN 1839”[1] yang menurut saya merupakan suatu tema yang unik dalam sejarah, lain dari kebanyakan. Dan lebih berkembang lebih luas terkait dengn buku ini secara utuh, buku “Sultan, Pahlawan dan Hakim”. Seperti yang telah kita ketahui bahwasanya tema-tema yang diambil dalam penulisan sejarah adalah tema-tema besar, seperti tokoh-tokoh atau pristiwa-peristiwa besar yang dianggap lebih menarik minat dan menjual. Tulisan sejarah seperti kebanyakan, membuat hal-hal yang terabaikannya yang dianggap hal-hal kecil yang tentu sebenarnya merupakan komponen dari peristiwa sejarah juga. Artikel pendek ini seakan mengingatkan kita tentang hal-hal yang terabaikan, yang jarang ditengok dan mendapat sorotan. Hal-hal yang selama ini tidak mendapatkan tempat dalam historiografi kita. Dengan melihat dengan mendetail ternyata dari tema ini ditemukan berbagai hal-hal yang menarik dan menambah pengetahuan tentang berbagai aspek kehidupan masyarakat kita di masa lalu.
Sebagai sejarawan, dalam menulis kita sering terbentur pada masalah sumber. Dengan melihat artikel-artikel ini kita dapat belajar bagaimana kita bisa tidak harus bergantung pada arsip negara. Tulisan ini membuktikan dengan membukakan pemikiran kita tentang kemungkinan menulis sejarah tanpa hanya bergantung pada arsip Negara (colonial), sebagai ‘fakta-fakta yang dapat dipercaya’.[2] Untuk menulis hal-hal baru ada kendala terkait dengan sulitnya sumber penulisan namun apabila kita melihat lebih luas tidak sedikit karya sastra yang bisa dijadikan sumber. Fiksi dan fakta sejarah tidak dapat begitu saja  secara kaku diasosiasikan  hanya dengan salah satu di antara keduanya, yaitu hanya berkaitan dengan sastra atau hanya dengan sejarah.[3]
Dalam buku yang inspiratif ini juga terdapat karya sastra yang dijadikan sumber, tetapi tentunya diperhatikan dari segi sejarah. Seperti yang telah kita ketahui, sastra dan sejarah telah lama menjadi bahan perdebatan yang terus-menerus dalam bidang penelitian tentang sastra-sastra klasik Nusantara, oleh karena semua teks penting yang berkaitan dengan sejarah suatu kerajaan juga merupakan karya sastra.[4] Walaupun mempunyai unsur subjektivitas yang sangat kental, Tradisi penulisan tradisioanl yang sering diartikan sebagai karya sastra tidak lantas dapat diabaikan begitu saja. Seperti pendapat Taufik Abdullah yang dikutip Bambang Purwanto, melalui karya sastra kita dapat memahami proses masa lalu dan menangkap kembali struktur waktu dari realitas.

Menggali Yang Terabaikan
Buku dengan judul Sultan, Pahlawan, dan Hakim ini merupakan kumpulan dari berbagai tema yang jarang mendapatkan sorotan dari masyarakat luas dan jarang juga menarik minat sejarawan untuk menggali tentang hal-hal tersebut. Adapun bab-bab di dalam buku ini membahas lima teks melayu yang diedit dan dijadikan sumber data, atau sedikitnya diselidiki dan dibahas sebagai sumber data.[5] Dan yang perlu diketahui bahwasanya teks-teks itu mengandung informasi yang tidak terdapat dalam sumber lain.
Perkembangan historiografi sekarang yang memperkenankan penggunaan sumber-sumber tradisional sebagai sumber sejarah telah memberikan angin segar bagi dunia historiografi. Dewasa ini, mulai banyak ditemukan sejarawan yang mulai berani menggunakan sumber lokal sebagai sumber utama penelitiannya.
Sejarah kita nampak tidak utuh, menghambat dalam membaca dan mempelajari realita. Seakan-akan sejarawan tidak adil dalam kinerjanya seperti tidak memberi porsi untuk menyajikan kehidupan masyarakat. Perlu ada banyak yang di benahi dalam pola pikir kita dalam menulis obyek sejarah. Dan buku ini membantu membenahi dan membuka jalan ke arah yang lebih luas tentang penulisan, pemaknaan sejarah, sumber sejarah, dan obyek-obyek yang bisa menjadi tema sejarah sendiri.
Kajian yang ditulis oleh  Henri Chambert–Loir bersama dengan Marie-France Dupoizat ini sangat menarik. Teks Melayu yang menjadi bahasan dijelaskan secara mendetail dan terperinci. Walau tidak keseluruhan sejarah dan rincian tentang tempayan dapat terpecahkan karena memang tidak semua dijelaskan dalam teks yang diteliti atau diketahui oleh penulis.[6] Namun sebagai peta atau pedoman yang sistematis bagi penggemar tempayan baik pedagang maupun pembeli tempayan untuk lebih mengenali jenis tempayan dan harganya, pada masa teks tersebut digunakan, tentunya teks ini sangat besar manfaatnya. Untuk menjelaskan tentang periode, teks melayu  ini cukup terang karena tertera tahun di dalamnya, 1839. Dalam teks juga mencantumkan nama pemilik yaitu Mahbud, yang kemungkinan juga penyalinnya atau bahkan pengarangnya.[7]
            Ke dua peneliti dalam memetakan penjelasannya dalam tulisan artikel tentang teks melayu ini cukup baik. Dari deskripsi artikel ini dijelaskan kajian asal usul dan guna dari tempayan sebagai pokok bahasan, dan terdapat rincian naskah melayu dan pengertiannya (ada beberapa yang ambigu dan memang tidak terdapat dalam teks melayu yang kedua peneliti ketahui). Peneliti berusaha untuk menjelaskan dengan bahasa yang bisa dipahami orang banyak. Isi dari teks melayu ini sangat baik untuk masanya, apabila melihat dari masa tersebut kiranya penulis memiliki pengetahuan yang tinggi serta wawasan yang luas dan cerdas. Pembuat petunjuk tentang tempayan ini mampu menjelaskan dan menggambarkan secara fisik mulai dari ukuran, bentuk, sampai hiasan-hiasan yang tertera pada tempayan yang ada pada masa itu, selayaknya seseorang yang mampu mendesain perabot. Dan juga terdapat penomoran pada teks sehingga pengguna teks dapat membaca secara runtut. Ini menunjukkan bahwa pembuat teks melayu tersebut cukup intelek pada masanya, sehingga mampu menggambarkan apa yang terlihat dari sebuah tempayan secara tersurat. Si pembuat teks juga mengungkapkan pernah mendampingi pejabat tinggi kesultanan Pontianak. Hal ini menguatkan bahwa penulis teks melayu tersebut termasuk golongan intelektual pada masa itu.
            Artikel ini memuat bahwa dari melihat kepemilikan tempayan, kita dapat mengetahui tatanan sosial yang terdapat di masyarakat, sehingga status sosial seseorang dapat diidentifikasi. Masyarakat pada masa itu memiliki kecenderungan mengumpulkan tempayan sebagai symbol martabat.[8] Dengan demikian masyarakat menjadikan kepemilikan tempayan sebagai gengsi atau gaya hidup. Semakin berharganya tempayan yang dimiliki maka ia semakin dipandang.
            Selain dari guna tempayan itu sendiri, hiasan-hiasan yang terdapat pada tempayan memiliki makna yang turut menentukan nilai dari tempayan. Symbol yang paling menarik dan memiliki makna yang unik adalah naga. Naga dalam budaya masyarakat Tionghoa merupakan hewan yang dapat menjadi perantara antara langit dan bumi. Berkaitan dengan tempayan berhiaskan naga yang digunakan sebagai tempat untuk orang mati, naga di sini berfungsi sebagai penghubung antara orang yang hidup dengan yang mati.[9] Beberapa mitos dan keajaiban yang berkaitan dengan ratu Campa dan Majapahit juga mempengaruhi nilai dari tempayan. Jadi dapat disimpulkan bahwa mitos masih mewarnai kehidupan masyarakat pada masa itu dan selain itu, kebesaran kerajaan Majapahit mendapat tempat hingga masyarakat pelosok Kalimantan.
            Pada masa itu juga terdapat kisah yang menarik tentang perdagangan tempayan, di Kalimantan, yaitu terdapat penipuan dalam jual beli tempayan. Perkara ini cukup serius dan bahkan sampai dipengadilan raja Charles Brooke,dan pelaku penipuan mendapat hukuman selama dua tahun. Masalah ini terbongkar karena peran para ahli pribumi yang memiliki pengetahuan mendalam tentang tempayan. Ini menunjukkan bahwa telah ada atau terdapat kemajuan hukum dan system peradilan, baik pidana maupun niaga.
            Dari teks Melayu dan terjemahannya tersebut, nampak jelas penulis menggunakan huruf Arab dan gaya bahasa yang sangat Islami. Namun dari sudut pandang lain terkait dengan tempayan - tempayan yang populer pada masa itu, tersirat pula bahwa masyarakat meyakini mitos-mitos dewa, sehingga dalam ritual kematian mereka masih menggunakan tempayan berhias naga  sebagai tempat mayat, seperti yang telah disinggung sebelumnya kepercayaan tentang naga sendiri merupakan budaya Tionghoa. Dari sini dapat diketahui bahwa walau pengaruh Islam sudah kuat namun dalam kehidupan masyarakat kepercayaan terhadap budaya lain dan mitos tetap ada, tidak hilang. Tampak bahwa masyarakat kita pada masa itu sangat tolerir dalam menerima berbagai budaya dan kepercayaan, sehingga mereka dapat menyandingkan dan menganut berbagai pengaruh baik mitos, agama, maupun kepercayaan dalam kehidupannya.
            Tema seperti tempayan yang diulas ini membuka jalan untuk menemukan posisi dari kajian-kajian yang selama ini dianggap tidak menarik untuk dikaji secara mendalam. Dengan adanya warna baru ini seakan mampu mengisi sisi-sisi yang selama ini kosong dan kekurang lengkapan yang terasa hambar karena warna yang sama dari tema-tema yang senada. Hasil dari kebudayaan manusia yang selama ini kurang dianggap bermakna ternyata membawa banyak nilai yang menerangkan jalan dalam memngintai masa lampau.
Dari uraian tentang tempayan tersebut, kita dapat melihat betapa luas jangkauan dari sebuah sumber tradisional yang selama ini kurang dimaknai mendalam dalam penginterpretasiannya. Ini menegaskan bahwa tanpa sumber arsip pemerintah sejarah masih bisa dikuak. Sudut ini justru mampu memunculkan perspektik lain yang mewakili budaya local dan menembus berbagai aspek kehidupan.
Secara menyeluruh kelima teks yang menjadi bahasan, mampu mencerminkan jenis sastra yang berlaku pada masa itu. Dan menampilkan beberapa aspek bahasa melayu sebagai bahasa sastra, politik dan hukum serta bahasa komunikasi.[10] Dan dapat pula untuk mengetahui tentang sastra melau lama yang memiliki peran penting dalam khazanah sejarah bahasa Indonesia.
Penggunaan sumber-sumber local ini membuktikan bahwa kita sejak awal telah memiliki sumber-sumber yang dapat menjelaskan tentang masyarakat kita. Dalam penulisan sejarah local akan sangat dapat di pahami kelokalannya secara arif dan bijk apabila menggunakan sumber-sumber local juga. Jadi secara otomatis akan semakin menampakkan esensi dari kelokalannya sendiri.

Kesimpulan
            Setelah menilik dari awal hingga akhir dari karya yang ditulis oleh  Henri Chambert–Loir ini sangat menarik. Dimana terdapat tema-tema yang jarang diangkat kepermukaan, diabaikan oleh orang kebanyakan. Namun Henri mampu menggali dan mengkaji dengan rinci dan jelas dengan menggunakan sumber-sumber lokal. Ini seakan membuktikan bahwa sumber-sumber local yang selama ini banyak dihindari mampu dan dapat dijadikan sebagi sumber utama.
            Tema-tema yang diulas seperti tempayan salah satunya membuka jalan untuk menemukan posisi dari hal-hal yang selama ini dianggap tidak penting dan tidak menarik untuk dikaji secara mendalam. Adanya warna baru ini seakan mampu mengisi sisi-sisi yang selama ini kosong dan kekurang lengkapan yang terasa hambar karena warna yang sama dari tema-tema yang senada. Hasil dari kebudayaan manusia yang selama ini kurang dianggap bermakna ternyata membawa banyak nilai yang menerangkan jalan dalam memngintai masa lampau. Memperjelas akan identitas ke-Indonesiaan.
Dari uraian tersebut, kita dapat melihat betapa luas jangkauan dari sebuah sumber local tradisional yang selama ini kurang dimaknai mendalam dalam penginterpretasiannya. Ini menegaskan bahwa tanpa sumber arsip pemerintah sejarah masih bisa dikuak. Sudut ini justru mampu memunculkan perspektik lain yang mewakili budaya local dan menembus berbagai aspek kehidupan.
Dengan demikian diharapkan dapat memotivasi para sejarawan untuk tidak berputus asa dan percaya diri untuk terus mengungkap sejarah kita, menganalisis dengan melibatkan dan menggunakan karangan-karangan local dengan telaten, teliti dan terperinci, sehingga historiografi kita dapat terus berkembang.
DAFTAR PUSTAKA
Loir, Henri Chambert. Sultan, Pahlawan dan Hakim. Jakarta: KPG,École française d’Extrême-Orient, Masyarakat Pernaskahan Nusantara, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat-UIN Jakarta. 2011.
Nordholt, Henk Schulte., Bambang purwanto, dan Ratna Saptari. Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, KITLV-Jakarta, Pustaka Larasan. 2008.
P. Swantoro. Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu. Jakarta: KPG . 2002.



           



[1] Artikel ini ditulis bersama Marie-France Dupoizat dan pertama terbit dalam majalah Archipel (No. 66, 2003, h. 113-160) dengan judul “Le jarres de Bornéo d’après un texte malaise de 1839”. Dan di baca penulis dalam Henri Chambert-Loir, “Sultan, Pahlawan dan Hakim”, (Jakarta: KPG,École française d’Extrême-Orient, Masyarakat Pernaskahan Nusantara, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat-UIN Jakarta, 2011), halaman 111-152.
[2] Lihat Henk Schulte Nordholt, Bambang purwanto, dan Ratna Saptari “Memikir Ulang Historiografi Indonesia” dalam  buku Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia,(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, KITLV-Jakarta, Pustaka Larasan, 2008), halaman 14.
[3] Dalam artikel “Kesadaran Dekontruktif dan Historiografi Indonesiasentris” oleh Bambang Purwanto, hal. 2.
[4] Henri Chambert-Loir, “Sultan, Pahlawan dan Hakim”, (Jakarta: KPG,École française d’Extrême-Orient, Masyarakat Pernaskahan Nusantara, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat-UIN Jakarta, 2011), halaman 7.

[5] Ibib.
[6] Di dalam bab ini dijelaskan bahwa kedua peneliti tidak dapat dapat memastikan bahwa teks yang sedang dikaji tersebut merupakan salinan seutuhnya dari naskah aslinya, buku pegangan tenteng tempayan tersebut., Ibib., halaman 116.
[7] Ibid.,halaman 111.
[8] Ibid. halaman 114.
[9] Ibid.,halaman.112-113.
[10] Ibib, halaman 7.

Catatan Kuliah Umum Pemateri: Seng Guo Quan dan Michael G. Vann


Nama : Tiyas Dwi Puspita
NIM     : 0340431
Pada pembukaannnya ia berusaha menjelaskan bahwa tujuan dari sejarawan adalah mencapai kepada perubahan yang lebih baik.  Dalam pembahasannya ia membahas tentang sejarah pergerakan. Tulisannya dipengaruhi oleh E.B. Thomson yang beraliran marxis. Kajiannya tau studinya ini membahas tentang Singapura. Sempat menyinggung juga tentang Soekarno dan Lim Cing Song. Dimana Lim Cing Song merupakan pelopor perubahan di singapura pada tahun 1990.
            Di dalam studinya ini membahas tentang  aktivitas komunis. Dimana perubahan dan gerakan social yang terjadi tidak lepas dari pengaruh komunis. Selain itu juga terdapat sautu waktu dimana partai liberal juga berperan dalam gerakan dan perubahan social. Ia menjelaskan analisis-analisisnya tentang konflik social. Bagaimana manusia harus bertindak, dan bagaimana seorang sejarawan menjadi aktivis. Selain itu tentang sejarah Singapura, disinggung juga tentang Lee Kum Yew. Terdapat tiga kasus tentang gerakan social di India yang juga disinggung di sini. Ide tentang kemiskinan dan buruh di Bengal. Tentang Confusianisme.
            Penjajahan Prancis di Vietnam, dimulai dari penyerangan Prancis ke Hanoi, maka dimulailah pendudukan Prancis di sini. Pembentukan tata kota di Hanoi, oleh Prancis atau pemerintah kolonial. Pengaturan pola hidup kota yang diterapkan, dengan pusat dua kota/ dual city atau pembagian kota yang ini memancing demontrasi. Dimana pemerintahan colonial Prancis menerapkan diskriminasi ras yang mendudukkan kulit putih diatas pribumi. Dengan metodenya ia berusaha menjelaskan bagaimana cara melihat suatu sejarah dari kehidupan sehari-hari.
            Selanjutnya juga terdapat penjelasan tentang metode pendekatan tradisional yaitu: urban history, social history, tradisional society (government record, city plans, memoir of arthitect and official, tax record, maps). Seng Guo Quan berusaha menjelaskan bagaimana cara melihat perubahan dengan metode pendekatan ini.
Menjelaskan tentang metode dan petualangan dalam mendapatkan arsip dengan berbagai sensasi dan kelucuan-kelucuan. Pemerintahan Hanoi merupakan symbol dari modernitas, diskriminasi ras, suatu bentuk dari proyek colonial.
Selain itu professor Vann menjelaskan rincian singkat, cerita-cerita yang menyenangkan. Betapa ironinya pemerintahan yang ada dengan adanya kesehatan yang sangat buruk, dimana terjadi krisis. Isu-isu buruh, dan adanya hama tikus di pertanian. Ini semua dimuat di jurnal akademik. Di singgung pula tentang ulasan gender dalam kolonialisme Hanoi. Sumber-sumber kartun di  Koran-koran local, dan selalu mengikuti laporan-laporan tentang politik juga membantu dalam studi.Sumber-sumber tersebut sangat berguna dalam penulisan sejarah.
             

Mencari Arti Dari Yang Nampak Sehari-hari


Nama  : Tiyas Dwi Puspita
NIM     : 12/340431/PSA/7415
         Sebelumnya saya ingin mengungkapkan apa yang saya dapat pahami dari bahan bacaan ini yaitu bab 11 “Menulis kehidupan sehari-hari Jakarta: Memikirkan kembali sejarah social Indonesia”  yang ditulis oleh Bapak Bambang Purwanto. Dari bab 11 pada buku Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia ini saya memperoleh pandangan yang luas tentang tentang berbagai hal  yang terlupakan dalam sejarah Indonesia, selain itu yang merupakan focus dari buku ini adalah tentang penulisan sejarah Indonesia. Ada hal yang perlu dibenahi dan ada banyak peristiwa yang perlu disoroti.
            Pada bab tersebut yang menjadi focus spasial adalah Jakarta, selain sebagai kota yang padat penduduknya, Jakarta merupakan obyek yang memiliki tema yang komplek. Namun sayangnya seperti yang terpapar dalam buku ini sejarah kita tidak memberi tempat pada kehidupan masyarakat sehari-hari. Sesuatu yang sangat mencolok dari Jakarta seperti masyarakat miskin di pemukiman kumuh, gelandangan, pengamen, pedagang asongan, dan berbagai kelompok masyarakat lain yang ada di Jakarta luput dari sejarah social kita, seakan tidak ada, tidak mendapatkan tempatnya.
            Dari pemaparan yang sangat nyata tersebut nampak sekali Sejarah kita nampak tidak utuh, menghambat dalam membaca dan mempelajari realita. Seakan-akan sejarawan tidak adil dalam kinerjanya seperti tidak memberi porsi untuk menyajikan kehidupan masyarakat. Perlu ada banyak yang di benahi dalam pola pikir kita dalam menulis obyek sejarah. Dan buku ini membantu membenahi dan membuka jalan ke arah yang lebih luas tentang penulisan, pemaknaan sejarah, sumber sejarah, dan obyek-obyek yang bisa menjadi tema sejarah sendiri.
             Sebagai ibu kota, sangat wajar apabila Jakarta tampak seperti tempat yang penuh hiruk pikuk, masyarakatnya kurang peduli satu sama lain dan tidak mau mencari masalah satu sama lain pula. Namun keacuhan tersebut terkadang memberi tempat bagi orang-orang yang berusaha untuk mencari pengingkaran tentang hal-hal yang ingin mereka sembuyikan dari orang lain. Jakarta memberi ruang yang besar dengan berbagai keacuhannya dan kelonggaranya bukan sekedar sudut-sudut bagi mereka yang ingin menyembunyikan diri. Hal ini pula yang memberi peluang bagi kejahatan di ibukota. Contoh yang sering terjadi adalah kejahatan di tempat-tempat umum seperti di angkutan umum di jalan misalnya penodongan, pencopetan, pemerkosaan, kekerasan terhadap anak di bawah umur dan lain sebagainya.
            Sedangkan berbagai tema social tentang kemiskinan pun marak di Jakarta, seperti yang telah disinggung dalam buku. Adanya perdebatan tentang layak tidaknya suatu hal di jadikan sebagi sumber sejarah terkadang menjadi ganjalan bagi sejarawan untuk menulis sejarah social masyarakat yang diakui dan dibenarkan oleh metode keilmuan yang ada. Namun sebagai seorang yang mengerti tentang sejarah sebaiknya penulisan sejarah tidak terhenti begitu saja. Suatu yang tidak patut disesali untuk menulis berbagai kehidupan di masyarakat untuk membuka jalan menuju perluasan wawasan bagi masyarakat yang lebih luas lagi.
            Satu hal yang menguntungkan bagi masyarakat yang hidup di Jakarta adalah adanya kebebasan untuk lebih ekspresif, karena Jakarta mirip dengan sebuah panggung. Modernitas yang berkembang subur mendandani penduduk Jakarta menjadi komunitas yang modis. Khususnya dalam berpakaian, terkadang gaya pakaian tidak mencerminkan kondisi ekonomi penduduk Jakarta. Berbagai kalangan bebas berdandan sesuai dengan keinginnannya. Namun hal ini terkadang pula dianggap beberapa kalangan orang-orang Jakarta sebagai tuntutan hidup.
            

Review “ Masalah Utama Ilmu Sosial di Asia: Kritik, Dioagnosis, dan Rumusan”


Nama  : Tiyas Dwi Puspita
NIM     : 12/340431/PSA/7415
           Dalam pembahasan kali ini di dalam tulisan dipaparkan dengan jelas tentang munculnya berbagai disiplin ilmu social di berbagai Negara Asia. Kemudian seiring dengan perjalanan ilmu social sendiri maka di buntuti dengan berbagai kritik dari para pemikir yang melihat adanya dominasi Eropa sebagai patokan standar keilmuan. Eropa dan Amerika dijadikan sebagai kiblat dari ilmu social.
Para Ilmuwan Negara-negara Asia berpendapat bahwa dalam dunia pendidikan terkait dengan ilmu social ini, terdapat suatu kelalaian yaitu pengabaian substansi local yang secara kultural tentunya sangat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lain. Di mana para ilmuwan nasional ini berpandangan bahwa ada suatu konsep yang melekat pada pandangan Eropa tentang paham bahwa Asia merupakan wilayah yang tentu berbeda dalam artian berada di bawah bangsa Eropa, dengan kata lain tentu sangat Eropa sentris.
Secara sadar untuk mengkaji ini, tentu mau tidak mau kita akan kembali membahas tentang kolonialisme, seolah perkembangan apapun terkait Eropa sentris akan kembali mengingatkan kita terhadap motif penjajahan. Walaupun kebanyakan ini telah terjadi pada era yang berbeda namun runtutan waktu memang saling tertaut. Kebanyakan para pemikir akan termotivasi untuk mengembalikan dominasi nasional dalam berbagai bidang untuk mengembalikan nasionalisme kenegaraan.
Para pemikir local merasa adanya paham-paham indi yang kurang mendapat tempat dalam pengkajian ilmu pengetahuan secara akademik di Negaranya sendiri. Dominasi paham-paham asing telah menjadi topic wajib yang dalam penerapan di ruang lingkup wilayah yang berbeda sebenarnya kurang sesuai, karena pengabaian jati diri atau tentang identitas local.Namun ini akan berbeda dibeberapa Negara seperti Jepang, Cina, dan India, walaupun paham-paham yang berbau Eropa sentris masuk secara akademik namun dalam kehidupan sehari-hari ide-ide local tetap hidup subur dan terlestarikan. Bahkan para pemikir Negara-Negara Asia tersebut menawarkan berbagai tulisan yang membaeri esensi yang layak dijadikan pertimbangan.
Di Indonesia sendiri pengkritik terhadap pemerintahan colonial tidak hanya muncul dari pribumi namun juga dari golongan penjajah sendiri. Ini sedikit menepis tentang anggapan tentang kenetralan seorang ilmuwan atau pemikir professional, yang tentu mementingkan kebenaran dan kepentingan kemaslahatan orang banyak. Di dalam tulisan ini disinggung bahwa Van leur mengajukan suatu pandangan yang patut digunakan sebagai pertimbangan, tentang adanya kekurang sinkronan tulisan sejarah dari barat terhadap sejarah Indonesia.
            Dengan adanya berbagai kritik yang dilontarkan oleh para ilmuwan sebagai pemikir dan penulis sejarah, muncul berbabagai alternative dalam pembaharuan ilmu social yang diupayakan akan lebih sesuai untuk sosio kultural masyarakat masing-masing Negara, sehingga mempermudah pembelajaran dan membentuk substansi yang memang dibutuhkan sesuai kondisi dan sejarah bangsa-bangsa Asia sendiri.


Menilik Dua Sudut Pandang


Nama : Tiyas Dwi Puspita
NIM     : 0340431
          Penulisan sejarah adalah suatu kegiatan yang tidak lepas dari kuasa penulisnya. Dengan membaca bagian pembuka dari dua penulis yang berbeda saya melihat adanya perbedaan. Ini sudah merupakan suatu hal yang wajar, mungkin sudah selayaknya.
            Dari tulisan awal Sartono Kartodirjo berusaha menggambarkan apa yang akan di jelaskan dikemudian merupakan rekonstruksi sejarah Indonesia yang sebisa mungkin disusun secara kompleks dan multidimensional. Beliau berusaha menjelaskan secara terperinci dan hati-hati. Pembukaan buku ini ditulis cukup panjang dan detail, namun penuh kehati-hatian. Menanamkan tentang sebuah pandangan tentang perkembangan masyarakat Indonesia sebagai suatu kesatuan. Dimana tujuan penulisan ini diungkapkan secara tersurat dan tersirat bahwa ini tersusun dengan beberapa ideology yang ditujukan untuk persatuan dan integritas Indonesia, serta berusaha menanamkan dan menumbuhkan kesatuan nasional. Pengungkappan dari ideology tersebut pun dinyatakan dengan kehati-hatian. Dalam bagian kata pengantar ini Sartono Kartodirjjo berupaya juga menjelaskan kedudukan seorang sejarawan pada masa ini, sebagai seorang yang harus mampu bertanggungjawab dengan apa yang dilakukannya. Sehingga maksud dari pembentukan sejarah nasional ini tentulah untuk membentuk Negara nasional. Sehingga dari ini kita dapat mengetahui misi dari buku ini. Dalam bagian ini pula tentang mitos kesatuan bangsa Indonesia yang merupakan titik tolak terbentuknya Negara kesatuan. Motif dari buku semakin tersirat, yaitu membentuk nasionalitas Indonesian. Periodisasi dalam buku ini tidak dibuat dalam batasan yang rajam dengan alasan dianggap kurang relevan, dan tidak dapat mencakup perkembangan dan perubahan structural. Sartono juga mengungkapkan bahwa dalam penyusunan data terdapat penyeleksian, guna mencapai sintesis. Yang juga sangat ditekankan dalam penulisan pada bab ini adalah bentuk sejarah total yang akan disajikan. Sejauh mana relevansi-relevansi antara sejarah local dan sejarah Indonesia sebagai sejarah umum yang meliputi “unit nasional”.
            Sartono Kartodirjo juga menyinggung tentang Neerlando-sentris dan Indonesia-sentris. Serta bahwa tulisan ini lebih memberi tekanan pada proses sejarah. Diungkapkan bahwa beliau memandang pembatasan periode (caesuur) tidak dapat dilakukan secara konsisten dan ketat, dan mau tak mau lebih menonjolkan peroses politiknya. [1]
Hal ini memancing kecurigaan saya tentunya penulisan buku ini (yamg ditulis oleh Sartono Kartodirjo ini)tentulah tidak luput dari campurtangan pemerintah demi mewujudkan ingatan koleftif masyarakat terkait tujuan persatuan dan kesatuan nasional, untuk mencapai Negara nasional. Namun walaupun demikian tentu tujuan penulis berusaha keras untuk tidak menimbulkan suatu penilaian yang berpihak. Walaupun sesuatu karya tulis tetap tidak lepas dari nilai. Sementara secara temporal buku dari Sartono Kartodirjo ini di susun secara terperinci namun relative.
            Untuk pembandingnya adalah pembuka dari M.C. Ricklefs. Dalam tulisan pembukanya Ricklefs memaparkan tentang tujuannya adalah untuk memberikan pengetahuan dan memfasilitasi para mahasiswa, atau para akademisi ke tingkat yang lebih tinggi. Memenuhi kebutuhan mereka yang selama ini kajiannya terhambat oleh sejumlah karya pokok tentang Indonesia yang terlalu spesifik, dan banyaknya karya-karya yang ditulis dalam bahasa asing, dan sulitnya akses ke sebagian karya tersebut. Ricklefs juga menjelaskan memang baru-baru ini (pada saat buku ini dibuat), buku semacam ini mungkin dibuat. Tentang periodisasi, Ricklefs disini terdapat angka-angka yang tertera. Terdapat pemaparan tentan rincian-rincian yang di bahas dalam bab-babnya. Sumber-sumber yang digunakan dan orang-orang yang ikut menilik. Terdapat pula garis besar buku, alasan bagaimana bentuk penyusunan buku dan gambaran mengapa demikian serta tujuannya, dan yang tidak kalah penting misi guna untuk pembaca. Saya membaca bahwa karya ini tidak kurang melihat dari sejarah kehidupan masyarakat sehari-hari atau masyarakat kebanyakan. Ricklefs mengungkapkan bahwa ia pada prinsipnya lebih memilih narasi rinci yang bertujuan memudahkan pembaca untuk menyimpulkan. Ia juga mengakui bahwa buku ini tidak lepas dari cara pandanggnya. Berbagai kelemahan buku juga tidak dipungkiri, ini cukup membuktikan pertanggungjawaban sebai sejarawan. Dan disebutkan pula bahwa untuk meminimalkan berbagai persoalan beliau meminta bantuan banyak teman dan rekan yang dari nama-nama yang tersebut dapat dilihat bahwa orang-orang tersebut adalah sejarawan-sejaran yang terkemuka ini terlepas dari kecurigaan saya apakah ini merupakan suatu strategi untuk menawan pembaca.
Namun secara tidak langsung dapat saya tangkap secara positif bahwa sebagai orang yang bukan dari Indonesia buku ini memberikan gambaran tentang Indonesia yang tentunya lebih tanpa tekanan akan nilai-nilai kekhawatiran akan suatu nilai yang membebani terhadap Indonesia. Yang saya maksud di sini adalah kekhawatiran tentang adanya tuduhan-tuduhan terhadap pertanggungjawaban apabila ada keberatan tentang sastu hal terkait nilai keadilan atau keberpihakan. Penulis lebih mementingkan pengetahuan yang akan memberi manfaat yang membantu perkembangan pengetahuan.




[1] Sartono Kartodirjo, buku sumber hal xxi.      

Sekilas Pemikiran Linda Tuhiwai Smith (Bab II “Meneliti Lewat Mata Imperalisme”)


Nama : Tiyas Dwi Puspita
NIM     : 0340431

            Sebagai sejarawan dengan latarbelakang sebagai seseorang yang berasal darai bangsa yeng terjajah dan meneliti tentang bangsa terjajah pula, linda memiliki kesadaran penuh akan posisinya. Di sini ia berupaya untuk membuat pemaparan tentang pencarian pendefinisian jatidiri dari bangsa-bangsa terjajah agar tidak selalu mengikuti atau sekedekar membeo dari definisi Barat. Buku ini ia definisikan sebagai upaya untuk memperbaiki diri sendiri sebagai bangsa terjajah.
            Dalam bab II ini linda berupaya menjelaskan tentang konsep-konsep peneliti barat tentang hal-hal terkait dengan penelitian. Bab ini mula-mula dibuka dengan pengertian orang-orang terjajah yang dalam pembahasan ini disebut pribumi terhadap para peneliti dan penelitian. Dan disambung dengan tanggapan barat yang sendiri yang beranggapan bahwa mereka sendiri tidak relevan bagi bangsa pribumi.
            Namun ulasan yang ditekankan adalah tentang konsep-konsep Barat.  Yang pertama yang menjadi sub bahasan adalah formasi kultural penelitian Barat, Arsip kultural Barat yang merepresentasikan tradisi pengetahuan yang berlapis. Pengertian tentang ide apa yang direpresentasikan Barat menjadi penting disisnikarena kebanyakan teori mengenai penelitiian ditopang oleh sebuah system klasifikasi dan representasi, dab oleh pandangan-pandangan tentang sifat manusia, moralitas dan nilai manusia, konsepsis ruang dan waktu, dan konsepsi gender dan ras.Konsep barat tentang ras beririsan secara rumit dengan konsep gender.[1] Setelah menganalisis dengan seksama maka Linda memandang bahwa kepentingan barat tetap menjadi modus utam dalam penelitiannya.
            Yang berikutnya linda juga menmbahas tentang konseptualisasi individu dan masyarakat yang pada akhirnya ia menyimpulkan bahwa pembahasan ini berujung satu hal yaitu menunjukkan betapa superiornya Barat.[2] Lalu dilanjutkan pandangan Barat Terhadap ruang dan waktu yang tetap mengukuhkan bahwa posisi Barat berada posisi yang lebih baik. Dari semua penjabaran dapat diketahui bagaimana pemahaman bangsa terjajah oleh bangsa Barat khususnya peneliti Barat oleh Linda. Dimana linda sendiri merasa bahwa hasil penelitiannya ini menunjukkan kekurang adilan para peneliti barat atau kekurang bijakan peneliti barat dalam menempatkan bangsa terjajah. Jadi posisi Linda adalah peneliti dari bangsa terjajah yang meneliti para peneliti barat yang meneliti bangsa terjajah.
           


[1] Linda Tuhiwai Smith, hal 51-52.
[2] Ibid, hal 60.

Mencari Arti Dari Yang Nampak Sehari-hari


Nama  : Tiyas Dwi Puspita
NIM     : 12/340431/PSA/7415
         Sebelumnya saya ingin mengungkapkan apa yang saya dapat pahami dari bahan bacaan ini yaitu bab 11 “Menulis kehidupan sehari-hari Jakarta: Memikirkan kembali sejarah social Indonesia”  yang ditulis oleh Bapak Bambang Purwanto. Dari bab 11 pada buku Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia ini saya memperoleh pandangan yang luas tentang tentang berbagai hal  yang terlupakan dalam sejarah Indonesia, selain itu yang merupakan focus dari buku ini adalah tentang penulisan sejarah Indonesia. Ada hal yang perlu dibenahi dan ada banyak peristiwa yang perlu disoroti.
            Pada bab tersebut yang menjadi focus spasial adalah Jakarta, selain sebagai kota yang padat penduduknya, Jakarta merupakan obyek yang memiliki tema yang komplek. Namun sayangnya seperti yang terpapar dalam buku ini sejarah kita tidak memberi tempat pada kehidupan masyarakat sehari-hari. Sesuatu yang sangat mencolok dari Jakarta seperti masyarakat miskin di pemukiman kumuh, gelandangan, pengamen, pedagang asongan, dan berbagai kelompok masyarakat lain yang ada di Jakarta luput dari sejarah social kita, seakan tidak ada, tidak mendapatkan tempatnya.
            Dari pemaparan yang sangat nyata tersebut nampak sekali Sejarah kita nampak tidak utuh, menghambat dalam membaca dan mempelajari realita. Seakan-akan sejarawan tidak adil dalam kinerjanya seperti tidak memberi porsi untuk menyajikan kehidupan masyarakat. Perlu ada banyak yang di benahi dalam pola pikir kita dalam menulis obyek sejarah. Dan buku ini membantu membenahi dan membuka jalan ke arah yang lebih luas tentang penulisan, pemaknaan sejarah, sumber sejarah, dan obyek-obyek yang bisa menjadi tema sejarah sendiri.
             Sebagai ibu kota, sangat wajar apabila Jakarta tampak seperti tempat yang penuh hiruk pikuk, masyarakatnya kurang peduli satu sama lain dan tidak mau mencari masalah satu sama lain pula. Namun keacuhan tersebut terkadang memberi tempat bagi orang-orang yang berusaha untuk mencari pengingkaran tentang hal-hal yang ingin mereka sembuyikan dari orang lain. Jakarta memberi ruang yang besar dengan berbagai keacuhannya dan kelonggaranya bukan sekedar sudut-sudut bagi mereka yang ingin menyembunyikan diri. Hal ini pula yang memberi peluang bagi kejahatan di ibukota. Contoh yang sering terjadi adalah kejahatan di tempat-tempat umum seperti di angkutan umum di jalan misalnya penodongan, pencopetan, pemerkosaan, kekerasan terhadap anak di bawah umur dan lain sebagainya.
            Sedangkan berbagai tema social tentang kemiskinan pun marak di Jakarta, seperti yang telah disinggung dalam buku. Adanya perdebatan tentang layak tidaknya suatu hal di jadikan sebagi sumber sejarah terkadang menjadi ganjalan bagi sejarawan untuk menulis sejarah social masyarakat yang diakui dan dibenarkan oleh metode keilmuan yang ada. Namun sebagai seorang yang mengerti tentang sejarah sebaiknya penulisan sejarah tidak terhenti begitu saja. Suatu yang tidak patut disesali untuk menulis berbagai kehidupan di masyarakat untuk membuka jalan menuju perluasan wawasan bagi masyarakat yang lebih luas lagi.
            Satu hal yang menguntungkan bagi masyarakat yang hidup di Jakarta adalah adanya kebebasan untuk lebih ekspresif, karena Jakarta mirip dengan sebuah panggung. Modernitas yang berkembang subur mendandani penduduk Jakarta menjadi komunitas yang modis. Khususnya dalam berpakaian, terkadang gaya pakaian tidak mencerminkan kondisi ekonomi penduduk Jakarta. Berbagai kalangan bebas berdandan sesuai dengan keinginnannya. Namun hal ini terkadang pula dianggap beberapa kalangan orang-orang Jakarta sebagai tuntutan hidup.
            

Review Sex, Race and the Contract Bab 3 dalam buku Textual Empires oleh Mary Quilty


Nama : Tiyas Dwi Puspita
NIM   : 0340431

          Tulisan Mary sangat menarik, didalam tulisan ini kita dapat melihat gambaran penjajahan dan tujuan penjajahan Inggris di Asia, khususnya Asia Timur dan Asia Tenggara. Motif Ekomoni menjadi alasan utama, yaitu diawali dengan mencari bahan baku dan memasarkan produknya, hingga kemudian semakin meluas. Dalam pembahasannya ini, selain mengulas pemikiran- pemikiran dari tokoh-tokoh sejarawan tapi juga dikaitkan dengan teori-teori pemikir-pemikir besar. Dimana politik dan ekonomi sangat erat dalam kolaborasi guna untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dalam penjajahan Inggris di Asia.
          Bab ini juga banyak mengemukakan tentang seks atau gender dalam struktur social dan kaitannya dengan kontrak social. Betapa wanita sangat dipandang rendah dalam kehidupan apabila dibandingkan laki-laki. Dan bagaimana posisinya yang sangat tidak menguntungkan, untuk dirinya sendiri. Posisi wanita tidak lebih adalah budak yang harus dikorbankan untuk kebaikan umat mausia.
          Permasalahan ras juga diangkat di sini, kepentingan masyarakat pribumi yang dianggap jauh lebih rendah dibanding bangsa-bangsa Eropa. Raja atau Sultan merupakan alat bagi pemerintah colonial eropa untuk menjalankan perindustrian. Selama penguasa dapat diajak kerjasama, maka perdagangan dan industry akan berjalan sesuai dengan keinginan pemerintah colonial.
          Selain itu juga disinggung tentang Sumatra, dimana Marsden dinilai sebagai sosok yang sangat baik dalam penuturannya yang mendetail mengenai Sumatra, dan belum ada yang menandingi dalam penulisan tentang Sumatra ini. Dalam hal ini penulisan Marsden sangat mendetail dan jelas. Sehingga  mendapat pengakuan secara keilmuan, atau memberi sumbangan pada dunia penelitian.
          Terdapat juga pembahasan tentang populasi di daerah jajahan. Pertumbuhan penduduk mempengaruhi perindustrian dan ekomoni Negara jajahan dan penjajah sendiri. Kajian tentang perubahan populasi di Jawa, juga disinggung. Hal ini juga di hubungkan dengan teori-tori ekonomi. Namun dalam hal ini wanita dianggap sebagai unsur penting.
          Dan satu point yang nampak oleh saya tentang penulis, adalah Mary juga menyoroti tentang sorotannya terhadap kesombongan para penulis besar ini tentang kedudukannya sebagai orang Eropa, yang mereka (penulis-penulis besar ini sendiri) anggap tentu lebih tinggi dari sudut apapun baik dari peradaban, ras, dan semua hal-hal yang dianggap sebagai suatu budaya luhur atau kemajuan terkait dengan hal-hal baik tentu, apabila dibanding dengan bangsa-bangsa atau orang-orang daerah jajahan tempat penelitian mereka, atau Asia khususnya. Sehingga segala idealisme intelektual tentang dukungan terhadap kebebasan, seakan terhempas dengan rasa sombong dan anggapan lebih rendah terhadap bangsa lain. Memudarkan kebesaran mereka sebagai tokoh terhormat. Muncul keraguan terhadap tokoh-tokoh ini, tentang dedikasi sebagai sejarawan, yang punya andil besar dalam ilmu pengetahuan. Namun satu point plus untuk Mary yang mampu berbesar menyempatkan menyinggung tentang hal ini.
         
         

Review “ Hasil Perbandingan dua artikel yang berjudul 'Asian Values' and Southeast Asian Histories oleh T. N. Harper Dan Historicism and Historiography in Indonesia oleh Sue Nichterlein


Nama   : Tiyas Dwi Puspita
NIM       : 12/340431/PSA/7415

          Dua pokok bahsan di atas merukan kajian yang membahas tentang tentang historiografi. Harper membahas dalam lingkup wilayah yang lebih luas yaitu Asia Tenggara sedangkan Nichterlein mengkhususkan Indonesia. Dalam tulisanya Harper mnjelaskan tentang pemikiran Samuel Hutington, dimana Hutington mengaitkan Barat dan Timur atau Asia dan Eropa dari segi peradaban. Adanya benturan budaya dia antara keduanya. Bangas-bangsa Eropa yang menganggap peradaban Asia atau lebih dikenal dengan budaya Timur. Namun bangsa barat banyak terinspirasi oleh budaya timur pula. Dan untuk masa-masa berikutnya banyak sekali orang-orang Barat yang tertarik untuk mengetahui banyak hal dari dunia Timur, sehingga dikirimlah para peneliti-peneliti Barat ke Asia tenggara untuk menulis tentang Asia Tenggara. Semantara seiring dengan waktu bangsa-bangsa di Asia Tenggara pun mulai menulis tentang wilayahnya, dimana dilihat dari perkembangannya semakin muncul rasa Nasionalisme dan penulisan sejarah semakin lama ditulis mungkin untuk kepentingan nasional dan mungkin juga untuk kepentingan penguasa.
            Sedangkan dalam artikel kedua yang menjadi bahasan di sini, yaitu Historicism and Historiography in Indonesia oleh Sue Nichterlein, pada awalnya membahas tentang historigrafi sendiri, bahwa ada atau muncul paham tentang historiografi, atau historisisme. Kemudian adanya pergulatan tantang kesadaran bangsa-bangsa tentang pentingnya historiografi, namun dilain pihak hal ini juga disusul adanya tidak sinkronisasi, atau menampilkan dimensi masing-masing. Bermunculan aliran-aliran Eropasentris, Asiasentris, dan sentris-sentris dengan scupe yang lebih kecil lagi secara kewilayahan. Selanjutnya dalam kajiannya ini  Nichterlein, membahas tentang perkembangan historiografi Indonesia.
            Dari dua artikel diatas tidak dapat dipungkiri bahwa di dunia Barat pun terdapat perdebatan tentang penulisan sejarah yang melahirkan paham-paham tertentu yang dipengaruhi ide-ide tertentu. Namun nampak juga bahwa secara pola ada kesamaan antara satu dengan lainnya. Sementara dari perabab tentulah berbeda meskipu dalam pasang surutnya tak jarang terdapat kesamaan pola. Nammun memang tidak bisa di pungkiri bahwa kolonialisme membawa pengaruh penting dalam corak penulisan ide historiografi. Dan selain itu semangat kedaerahan pun merupakan motif yang mendukung lahirnya sentris-sentris local.
            Dari dua tulisan tersebut dapat menjadi gambaran yang runtut dari scupe regional ke scupenasional kemudian daerah. Tulisan-tulisan tersebut memberikan penjelasan dengan pemikiran yang luas dan memberikan pola yang runtut. Yang lebih menmbah menarik tulisan-tulisan tersebut adalah adanya pandangan-pandangan yang memberi pengetahuan dari penulis sejarah eropa maupun penulis sejarah Indonesia sendiri. Sehingga memperluas pandangan kita tentang sejarah paham–paham historiografi.

Review “ TEORI MAHAN DAN SEJARAH KEPULAUAN INDONESIA” Oleh: J.C. Van Leur dan F.R.J. Verhoeven


Nama : Tiyas Dwi Puspita
NIM   : 0340431

          Karangan ini memaparkan tentang kaitan teori mahan dan pertentangan yang melibatkan kedua penulis tersebut. Mereka saling menyangkal dalam tulisan masing-masing. Dalam perpentangan ini ada banyak perumpamaan yang mengandung sindiran-sindiran pedas yang membutuhkan kejelian kita untuk dapat lebih menyikapi sejara bijaksana.
          Teori Mahan di jadikan titik tolak yang dalam pengartiannya digunakan dengan interpretasi pengarang. Sehingga seakan-akan merupakan alat penyangkalan. Dalam bahasan ini dua pengarang memiliki intrepetasi yang berbeda. Karangan ini dapat menjadi referensi yang menarik dengan kaca mata yang lebih tajam, dan wacana yang dapat membawa kita lebih banyak mengetahui sudut pandang orang-orang Belanda.
          Dari karangan ini kita juga dapat memahami bagaimana Negara kita yang secara geografi memang telah menunjukkan sebagai Negara kepulaun yang merupakan keuntungan bagi kita. Dimana dari sini perekonomian dapat lebih berkembang. Secara pemerintahan kerajaan- kerajaan yang terletak di pesisir, juga telah membentuk pertahanan, sehingga saat asing berusaha merebut kekuasaan bangsa kita juga melawan. Namun sayangnya, sementara bangsa asing telah membentuk strategi dalam pengusaan atau perebutan wilayah melalui jalan Laut, kita sebagai bangsa yang moyangnya pelaut justru belum mengenal tentang teori-teori Mahan. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan kita jauh tertinggal apabila di bandingkan dengan bangsa-bangsa Eropa.
          Dalam perdebatannya kedua pengarang memaparkan penjelasannya secara terperinci. Apabila di pandang dari sudut Indonesia maka Van Leur lebih membela VOC, namun Verhoeven memaparkan tentang kekuatan perang VOC yang justru lebih banyak berperang di banding berdagang. Keduanya melakuan analisis-analisis untuk memperkuat pendapat masing-masing. Namun kedua pihak sama-sama kurang menyoroti tentang kepulauan Indonesia sendiri. Ini dapat di maklumi karena tentu mereka lebih sibuk untuk menjelaskan tentang pernyataan-pernyataan masing-masing.
Apabila kita mempertimbangkan teory Mahan dan dapat menerapkannya pada waktu itu tentunga Indonesia merupakan Negara yang sangat menguntungka dilihat dari posisinya dalam jalur perdagangan. Memiliki laut yang luas dan tentunya kekuatan yang besar, terkait dengan jumlah penduduknya yang banyak. Namun belum adanya persatuan membuat ini kurang menguntungkan.

Review “ TEMPAYAN KALIMANTAN MENURUT SEBUAH TEKS MELAYU TAHUN 1839[1]”[2]


Nama  : Tiyas Dwi Puspita
NIM     : 12/340431/PSA/7415

            Kajian yang ditulis oleh  Henri Chambert–Loir bersama dengan Marie-France Dupoizat ini sangat menarik. Teks Melayu yang menjadi bahasan dijelaskan secara mendetail dan terperinci. Walau tidak keseluruhan sejarah dan rincian tentang tempayan dapat terpecahkan karena memang tidak dijelaskan dalam teks yang diteliti atau diketahui oleh penulis.[3] Namun sebagai peta atau pedoman yang sistematis bagi penggemar tempayan baik pedagang maupun pembeli tempayan untuk lebih mengenali jenis tempayan dan harganya, pada masa teks tersebut digunakan, tentunya teks ini sangat besar manfaatnya. Untuk menjelaskan tentang periode, teks melayu  ini cukup terang karena tertera tahun di dalamnya, 1839. Dalam teks juga mencantumkan nama pemilik yaitu Mahbud, yang kemungkinan juga penyalinnya atau bahkan pengarangnya.[4]
            Ke dua peneliti dalam memetakan penjelasannya dalam tulisan artikel tentang teks melayu ini cukup baik. Dari deskripsi artikel ini dijelaskan kajian asal usul dan guna dari tempayan sebagai pokok bahasan, dan terdapat rincian naskah melayu dan pengertiannya (ada beberapa yang ambigu dan memang tidak terdapat dalam teks melayu yang kedua peneliti ketahui). Peneliti berusaha untuk menjelaskan dengan bahasa yang bisa dipahami orang banyak. Isi dari teks melayu ini sangat baik untuk masanya, apabila melihat dari masa tersebut kiranya penulis memiliki pengetahuan yang tinggi serta wawasan yang luas dan cerdas. Pembuat petunjuk tentang tempayan ini mampu menjelaskan dan menggambarkan secara fisik mulai dari ukuran, bentuk, sampai hiasan-hiasan yang tertera pada tempayan yang ada pada masa itu, selayaknya seseorang yang mampu mendesain perabot. Dan juga terdapat penomoran pada teks sehingga pengguna teks dapat membaca secara runtut. Ini menunjukkan bahwa pembuat teks melayu tersebut cukup intelek pada masanya, sehingga mampu menggambarkan apa yang terlihat dari sebuah tempayan secara tersurat. Si pembuat teks juga mengungkapkan pernah mendampingi pejabat tinggi kesultanan Pontianak. Hal ini menguatkan bahwa penulis teks melayu tersebut termasuk golongan intelektual pada masa itu.
            Artikel ini memuat bahwa dari melihat kepemilikan tempayan, kita dapat mengetahui tatanan sosial yang terdapat di masyarakat, sehingga status sosial seseorang dapat diidentifikasi. Masyarakat pada masa itu memiliki kecenderungan mengumpulkan tempayan sebagai symbol martabat.[5] Dengan demikian masyarakat menjadikan kepemilikan tempayan sebagai gengsi atau gaya hidup. Semakin berharganya tempayan yang dimiliki maka ia semakin dipandang.
            Selain dari guna tempayan itu sendiri, hiasan-hiasan yang terdapat pada tempayan memiliki makna yang turut menentukan nilai dari tempayan. Symbol yang paling menarik dan memiliki makna yang unik adalah naga. Naga dalam budaya masyarakat Tionghoa merupakan hewan yang dapat menjadi perantara antara langit dan bumi. Berkaitan dengan tempayan berhiaskan naga yang digunakan sebagai tempat untuk orang mati, naga di sini berfungsi sebagai penghubung antara orang yang hidup dengan yang mati.[6] Beberapa mitos dan keajaiban yang berkaitan dengan ratu Campa dan Majapahit juga mempengaruhi nilai dari tempayan. Jadi dapat disimpulkan bahwa mitos masih mewarnai kehidupan masyarakat pada masa itu dan selain itu, kebesaran kerajaan Majapahit mendapat tempat hingga masyarakat pelosok Kalimantan.
            Pada masa itu juga terdapat kisah yang menarik tentang perdagangan tempayan, di Kalimantan, yaitu terdapat penipuan dalam jual beli tempayan. Perkara ini cukup serius dan bahkan sampai dipengadilan raja Charles Brooke,dan pelaku penipuan mendapat hukuman selama dua tahun. Masalah ini terbongkar karena peran para ahli pribumi yang memiliki pengetahuan mendalam tentang tempayan. Ini menunjukkan bahwa telah ada atau terdapat kemajuan hukum dan system peradilan, baik pidana maupun niaga.
            Dari teks Melayu dan terjemahannya tersebut, nampak jelas penulis menggunakan huruf Arab dan gaya bahasa yang sangat Islami. Namun dari sudut pandang lain terkait dengan tempayan - tempayan yang populer pada masa itu, tersirat pula bahwa masyarakat meyakini mitos-mitos dewa, sehingga dalam ritual kematian mereka masih menggunakan tempayan berhias naga  sebagai tempat mayat, seperti yang telah disinggung sebelumnya kepercayaan tentang naga sendiri merupakan budaya Tionghoa. Dari sini dapat diketahui bahwa walau pengaruh Islam sudah kuat namun dalam kehidupan masyarakat kepercayaan terhadap budaya lain dan mitos tetap ada, tidak hilang. Tampak bahwa masyarakat kita pada masa itu sangat tolerir dalam menerima berbagai budaya dan kepercayaan, sehingga mereka dapat menyandingkan dan menganut berbagai pengaruh baik mitos, agama, maupun kepercayaan dalam kehidupannya.

.
           


[1] Artikel ini ditulis bersama Marie-France Dupoizat dan pertama terbit dalam majalah Archipel (No. 66, 2003, h. 113-160) dengan judul “Le jarres de Bornéo d’après un texte malaise de 1839”.
[2] Henri Chambert –Loir, Sultan, Pahlawan dan Hakim, Jakarta: KPG,  2011, hlm. 111.
[3]Di dalam bab ini dijelaskan bahwa kedua peneliti tidak dapat dapat memastikan bahwa teks yang sedang dikaji  tersebut merupakan salinan seutuhnya dari naskah aslinya, buku pegangan tenteng tempayan tersebut., Ibib., hlm. 116,
[4] Ibid.,hlm. 111.
[5] Ibid.. hlm. 114.
[6] Ibid.,hlm.112-113.