Halaman

Rabu, 16 Januari 2013

(Tugas Akhir). Pemikiran Historiografi Tradisional di Ternate Dalam Perspektif “Limau Jore-Jore”1

Nama : Irfan Ahmad
NIM    : 12/338870/PSA/07247

Latar Belakang
Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki peradaban yang cukup tinggi. Hal itu dapat dilihat dari peninggalan-pening galan dari masa lampau yang sangat menkajubkan. Nenek moyang bangsa Indonesia telah mewarisi perdaban yang luhur untuk dipelajari sebagai ilmu pengetahuan. Beberapa warisan tesebut dapat dilihat hingga kini seperti Candi Borobudur yang dibangun pada masa Mataram kuno, Situs Trowulan yang diperkirakan berasal pada masa majapahit abad 14, hingga beberapa prasasti dan teks-teks kuno. Melihat peninggalan masa lampau yang begitu banyak maka diperlukanlah suatu ilmu yang dapat merekonstruksi peristiwa masa lampau. Ilmu tersebut ialah ilmu Sejarah
Ilmu sejarah yang kita kenal merupakan ilmu yang mempelajari masa lampau, namun bukan berarti sejarah hanya berpijak dimasa lampau saja, namun sejarah juga berpijak dimasa depan. Sebagai ilmu pengetahuan, maka sejarah pun memiliki perkembangan, terutama dari segi penulisan. Penulisan sejarah atau Historiografi ternyata berkembang dari masa ke masa. Historiografi pun berkembang sejak jaman kemerdekaan. Penulisan sejarah Indonesia berkembang dari berbagai cakrawala diantaranya dari religio kosmoginis ke sejarah kritis,2 dari etnocentrism ke natiocentris, dari kolonial elitis ke sejarah Indonesia secara keseluruhan
Ilmu sejarah memiliki tahap-tahap kritis dalam perkembangannya manakala muncul pemahaman yang dikenal dengan posmodernisme. Mereka yang termasuk dalam peham ini ialah Derrida, Lyotard. Foucault, yang dianggap hanya membongkar-bongkar tatanan dan menihilkan segala hal3. R.Z. Leirissa, menganggap bahwa kaum posmodernisme ini sudah terlalu berbahaya dalam mengkritik ilmu sejarah karena posmo berpandangan negatif terhadap fakta, objektivitas dan kebenaran yang menjadi pokok kajian sejarah.
Sejarah bukan semata-mata rangkaian fakta belaka, tetapi sejarah adalah sebuah cerita. Cerita yang dimaksud adalah penghubungan antara kenyataan yang sudah menjadi kenyataan peristiwa dengan suatu pengertian bulat dalam jiwa manusia atau pemberian tafsiran /interpretasi kepada kejadian tersebut.4 Dengan kata lain penulisan sejarah merupakan representasi kesadaran penulis sejarah dalam masanya5. Secara umum dalam metode sejarah, penulisan sejarah (historiografi) merupakan fase atau langkah akhir dari beberapa fase yang biasanya harus dilakukan oleh peneliti sejarah. Penulisan sejarah (historiografi) merupakan cara penulisan, pemaparan, atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan6
Dipaparkan oleh Prof. F.W. Stapel, seorang historiograf Belanda: penulisan sejarah Hindia Belanda harus menguntungkan kepentingan negara induk di tanah jajahan. Jadi apa yang disampaikannya bersifat Niderland Centries. Pandangan yang diarahkan pada kepentingan ini juga dapat ditemukan dalam penulisan sejarah nasional yang bersifat Jawa Centries. “Tendensi memandang sesuatu dengan perspektif alam pikir mitis (mengagungkan kepentingan Raja/Kepala Negara) hingga kini masih mempengaruhi cara pikir orang Indonesia7. Studi C. Berg tentang filsafat sejarah apa yang telah mendasari historiografi Jawa membuktikan, penulisan sejarah Jawa tak seluruhnya berdasar pada realitas sejarah itu sendiri tapi pada pola-pola mitos”. Sejarah adalah ilmu mengenai kisah-kisah perkembangan manusia yang unik pada waktu dan tempat tertentu. Kisah–kisah yang terjadi dalam sejarah dapat dibedakan menjadi dua arti antara sejarah dalam arti objektif dan sejarah dalam arti subjektif. Sejarah dalam arti objektif, adalah kejadian atau peristiwa yang sebenarnya (History of Actually).
Sesuai dengan namanya, historiografi tradisional, maka historiografi ini berasal dari masa tradisional, yakni masa kerajaan-kerajaan kuno. Penulisnya adalah para pujangga atau yang lain, yang merupakan pejabat dalam struktur birokrasi tradisional bertugas menyusun sejarah (babad, hikayat). Contoh-contoh historiografi tradisional di antaranya ialah : sejarah Melayu, hikayat raja-raja Pasai, hikayat Aceh, Babad Tanah Jawi, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Kartasura dan lain-lain.
Apakah penulisan sejarah dilakukan oleh lembaga Negara atau para intelektual lokal, proses ini tidak dapat dilepaskan dari pandangan subjektif mengenai nasion, peran elit dan rakyat, Historiografi yang reflektif tidak saja menguji secara kritis metodologi sejarah, tetapi juga menguji dan merumuskan kembali berbagai klaim kebenaran dan menyelidiki terbentuknya klaim kebenaran secara historis.8

Kajian Kritis Bidadari Mandi
Setelah Kaibar Pas (jalur sutra) dinyatakan tertutup sebagai jalur perhubungan perdagangan melalui darat antara India dan Cina dengan alasan perampokkan, rute pelayaran perdagangan selanjutnya dialihkan ke jalur laut yang melewati selat Malaka. Kenyataan ini Pengalihan rute pelayaran telah membikin akulturasi kebudayaan antara India dan negara-negara yang ada di kepulauan nusantara terutama kerajaan Srivijaya dan kerajaan Malaka.  Pengaruh kebudayaan India di nusantara dapat terlihat jelas yaitu mudah diserap ajaran tentang kasta (varna) yang terdapat dalam kitab suci Hindu Purana oleh masyarakat nusantara8. Jauh sebelum masuknya pengaruh kebudayaan Hindu ini, kelas bangsawan kerajaan-kerajaan di nusantara belum terbentuk. Setelah sistem kasta diperkenalkan melalui akulturasi kebudayaan, mereka memanfaatkan ajaran agama Hindu– raja sebagai titisan dewa–untuk memberikan legitimasi atas posisi mereka di hadapan masa rakyat. Dari sinilah terbentuknya struktur kekuasaan yang feodal, teokratis. Terbentuknya kerajaan- kerajaan Hindu di nusantara ini meniru kerajaan yang sama di Funan, Champa, Vietnam Tengah, dan Vietnam Selatan.
                Masuknya kebudayaan India di nusantara itu secara tidak langsung juga mempengaruhi kerajaan-kerajaan di Maluku Utara (Moloku Kie Raha, ‘Empat Kerajaan Pulau’), termasuk kerajaan Ternate. Terbukti seperti diungkapkan oleh seorang historiograf legendaris kerajaan Ternate, Naidah dalam Kronik Kerajaan Ternate yang alih-bahasakan oleh P. Van der Crab9 Kronik yang ditulis oleh Naidah menggunakan bahasa Ternate dengan teks Melayu itu ternyata mengandung perspektif kosmos mitis–konsepsi tentang kedudukan Sultan sebagai titisan Penguasa Langit di Bumi (Baca: Mitos Bidadari Mandi)10. Makna filosofis yang terkandung di dalamnya adalah melindungi dan memperkuat legitimasi secara politik atas eksistensi wilayah kekuasaan kerajaan Ternate dari kemungkinan hegemoni negara-negara asing (Eropa), khususnya berhubungan dengan perdagangan cengkeh dari dan antarbangsa di dunia dan posisinya di hadapan masa rakyat, agar kelangsungan hidup kerajaan Ternate tetap bertahan di tengah persaingan perdagangan antarnegara. Makna filosofis dari penulisan kronik itu disadari dan dipikirkan oleh Naidah, karena kedudukannya sebagai seorang abdi istana (juru tulis peristiwa) kerajaan Ternate. Dengan demikian, arah penulisan kronik kerajaan Ternate itu pun bersifat istana centries.
           Dalam penulisan sejarah lokal di Indonesia hampir seluruhnya mengaitkan asal usul daerahnya dengan “Bidadari Mandi”, bukan saja di Moloku Kie Raha. Demikian juga dengan penulisan kronik (sejarah lokal) Moloku Ternate oleh Naidah yang bernuansa kepentingan, ternyata menyimpan kelemahan-kelemahan yang dapat terbaca dan dimanfaatkan oleh bangsa Eropa (Belanda) untuk menjalankan kepentingan politik ekstirpasinya yaitu melakukan penebangan cengkeh secara besar-besaran, guna mengurangi (melenyapkan) produksi komoditas ekspor utama itu dari bumi Moloku Kie Raha–Moloku Ternate. Meksipun apa yang dipaparkan oleh Naidah menampakkan kelemahan yang telah terbaca oleh bangsa Eropa, namun mereka tidak mampu mengambil alih kekuasaan dan menaklukkan Moloku Ternate termasuk tata niaga cengkeh yang diatur Moloku Ternate (Moloku Kie Raha). Ketidakmampuan bangsa Eropa (Belanda) untuk menaklukkkan dan mengambilalih kekuasaan  kesultanan Ternate, disebabkan oleh pengaruh kekuatan ajaran Islam yang sangat fundamental yaitu sebagai agama rahmatan lil alamin yang perlu dipertahankan dan disebarluaskan yang telah diletakkan oleh Djafar Sadik, seorang ulama dan juga pedagang dari Arab–Persia yang masuk ke Moloku Kie Gapi (kerajaan Ternate) melalui Jawa tanggal 12 Februari 1204 M.
           Kitab berbahasa Ternate dengan menggunakan aksara Arab Melayu yang dikenal dengan sebutan Buku Tambaga memaparkan penjelasan tentang pembagian wilayah kekuasaan Moloku Ternate masa Awal. Tulisan Drs. Mudafar Syah, Sultan Ternate, yang mengutip Buku Tambaga halaman 3 menulis. “Pembagian wilayah kekuasaan kerajaan Ternate masa Awal, dimulai dari pembagian wilayah kekuasaan untuk tiga orang bersaudara yaitu Anak Tuan Zaman jadi kerajaan Ternate masa Awal, dimulai dari pembagian wilayah kekuasaan untuk tiga orang bersaudara yaitu Anak Tuan Zaman jadi “Moloku”, Sahabat jadi “Moloku Tobona”, dan Daradjat jadi “Moloku Tubo”.11
Moloku, dalam asumsi saya, adalah sebuah negara berbentuk kerajaan dengan Momole12 dan   sebagai pemimpin (raja)-nya. Pembagian wilayah kekuasaan itu terjadi sebelum masuknya pengaruh agama Islam di wilayah Moloku Kie Gapi (kerajaan Ternate). Ini dibuktikan dengan pemberian nama oleh Tuan Zaman kepada ketiga anaknya yang bernuansa kepercayaan lama (animisme dan dinamisme). Berdasarkan wawancara saya dengan para informan (imam desa Foramadiahi dan beberapa tokoh lainnya), “Anak” Tuan Zaman jadi Moloku yang tidak disebutkan namanya dalam Buku Tambaga halaman 3, ternyata seorang Perempuan yang bernama Bay Guna. 
Berkenan dengan semakin ramainya kapal-kapal dagang milik para pedagang Islam menyinggahi kota bandar dagang Rua–Akerica (Akesibu) Moloku Kie Gapi (kerajaan Ternate) yang dipimpin oleh Djafar Sadik, seorang ulama dan juga pedagang berkebangsaan Arab–Persia tahun 624 H atau bertepatan dengan tanggal 12 Februari 1204 M, melakukan proses hubungan dagang dengan penguasa Moloku Ternate. Rempah-rempah (cengkeh) kemudian dibawa oleh para pedagang untuk diperdagangkan di Kota Bandar Dagang Bagdad (Irak) yang merupakan pusat kota Bandar dagang di Timur, dan dari Irak selanjutnya diangkut dan diperdagangkan kembali ke kota-kota Bandar dagang negara-negara Eropa. Kenyataan itu membuat naluri dagang Tuan Zaman bergerak dan melakukan perombakan struktur pemerintahan dalam Moloku Ternate (Kerajaan Ternate). Cara yang ditempuh adalah mengangkat Anaknya (Bay Guna) untuk menduduki kursi kekuasaan Moloku Ternate (Kepala Negara Kerajaan Ternate) dengan gelar Momole (seorang pemimpin yang dianggap cerdas, berwibawa, dan memiliki kesaktian tinggi dalam kepemimpinan) sekitar tahun 1205 M. Sebelumnya menduduki jabatan Fanyira Moloku Tobona (Negara Bagian Tobona). Keterangan tentang Bay Guna sebagai seorang perempuan yang menduduki jabatan Moloku Ternate (Kepala Negara Kerajaan Ternate), dilihat dari gelar yang diberikan: Momole. Demikian halnya dengan gelar Kolano13. Gelar ini diberikan kepada seorang pemimpin Laki-laki. Kolano maupun Momole adalah gelar untuk para pemimpin di Moloku Kie Gapi (Kerajaan Ternate) sebelum pengaruh ajaran Islam. Selanjutnya gelar itu kemudian di gunakan oleh seluruh pemimpin di Moloku Kie Raha – Empat Kerajaan Pulau yaitu Moloku Ternate, Moloku Tidore, Moloku Moti, dan Moloku Makian (Hasil Pertemuan Tobona sekitar tahun 900 M), yang merupakan sebuah lambang (identitas) persatuan dan kesatuan. Makna filosofis Moloku Kie Raha adalah kebersamaan empat Kerajaan Pulau itu dalam menghadapi situasi perdagangan dunia yang sudah menglobal, agar kelangsungan hidup Moloku Kie Raha dapat bertahan di tengah persaingan dagang antarbangsa, terutama masa hegemoni Khubilai Khan (Dinasty Tang) dari Cina di wilayah kepulauan Nusantara sekitar tahun 1200 M Gelar Momole dan Kolano tidak digunakan lagi saat kehadiran Djafar Sadik dan para pedagang muslim lainnya di Moloku Kie Raha, terutama setelah Djafar Sadik menikahi pemimpin Moloku Ternate (Bay Guna) dan mengajak istrinya masuk agama Islam. Gelar Momole dan Kolano selanjutnya diganti dengan Sultan yang secara keseluruhan dapat digunakan juga di seluruh Moloku Kie Raha. Sedangkan gelar Boki ‘Ratu’ hanya digunakan pada masa kekuasaan Moloku Ternate periode Bay Guna  yang telah memeluk Islam dengan nama Nursafa. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa sebelum periode Momole Bay Guna, sistem pemerintahan Moloku Kie Gapi (Kerajaan Ternate), sudah terbentuk sekitar tahun 900 M. Diperkirakan masa sebelum kepemimpinan Bay Guna, Moloku Ternate berada dalam Kekuasaan Kapita–Kepala Suku Zaman (Tuan Zaman) yang berasal dari komunitas Tobona (Perkampungan paling Awal di Ternate). Keterangan itu dapat dihubungkan dengan kenyataan bahwa jalur pelayaran perdagangan dunia dikuasai oleh umat Islam yang berpusat di Baghdad.
                Secara politis, dengan melakukan perombakan struktur pemerintahan oleh Tuan Zaman, Moloku Ternate oleh Tuan Zaman dapat memperkuat posisi tawar Moloku Ternate dalam keterlibatannya di pentas perdagangan dunia yang dimotori para pedagang Islam. Pengambilan keputusan politik yang ditempuh Tuan Zaman itu, mengandung konsekuensi harus menukarkan agama lama (Animisme dan Dinamisme) yang dianut Moloku Ternate dan seluruh rakyatnya dengan ajaran Islam yang dianut para pedagang Islam.14 Dengan demikian, Moloku Ternate pun akan dilibatkan dalam proses hubungan perdagangan dunia yang dikuasai pedagang Islam. Meksipun begitu cengkeh merupakan komoditas ekspor utama Moloku Ternate yang memiliki posisi tawar terkuat dalam perdagangan di dunia. Ini dapat dibuktikan dengan masuknya kapal-kapal dagang milik pedagang Muslim di bawah pimpinan Saudagar dan Ulama Djafar Sadik di Kota Bandar Dagang Rua–Akerica Moloku Ternate tanggal 12 Februari 1204 M guna melakukan proses hubungan dagang dengan penguasa Moloku Ternate.
                Cengkeh yang menjadi komoditas ekspor utama Moloku Ternate sangat diminati para pedagang Muslim, memaksa Bay Guna harus bekerja keras dalam melakukan diplomasi dagang dengan prinsip saling percaya dan saling menguntungkan. Pertemuan kedua pemimpin itu melahirkan kesepakatan (memorandum of understanding) tanggal 19 Februari 1204 M atau seminggu setelah tibanya Djafar Sadik dan rombongan dagang di Rua- Akerica (Baca hikayat Rua–Akerica) yang merupakan Ibukota Bandar Dagang Moloku Ternate. Rupa-rupanya dalam pertemuan formal kedua pemimpin itu, Djafar Sadik berniat memasang perangkap “asmara” untuk menjaring Bay Guna sebagai strategi untuk mecapai tujuan yang diharapkan. Strategi itu diperhitungkan dengan matang sehubungan dengan kemungkinan-kemungkinan memperoleh keuntangan dalam proses sebuah perdagangan dan dapat menyebarkan ajaran agama Islam yang dianutnya agar dapat diterima oleh penguasa Moloku Kie Gapi (Kerajaan Ternate) dan seluruh rakyat. Pertimbangan pemikiran Djafar Sadik adalah bahwa Bay Guna seorang pemimpin yang menganut kepercayaan Animisme–Dinamisme dan seorang dara yang kemungkinan akan tertarik dengan ketampanan Djafar Sadik. Gaung pun tersambut. Dasar pertimbangan yang sangat strategis itu diilhami oleh sejarah kehidupan Nabi Sulaiman yaitu sebelum Kerajaan Sabah ditaklukkan, kepala negaranya terlebih dahulu ditaklukkan (Ratu Balgis). Keunggulan diplomasi itulah pada akhirnya Djafar Sadik dapat mempersunting Bay Guna. Setelah Bay Guna resmi menjadi istrinya, Djafar Sadik kemudian menggantikan kepercayaan Animisme–Dinamisme dengan ajaran agama Islam untuk istrinya dan seluruh anggota keluarga lainnya dari Tuan Zaman.
                Sebagai pengganti gelar Momole yang disandang istrinya dalam jabatan sebagai kepala negara Moloku Ternate, Djafar Sadik kemudian memberikan gelar dan nama baru bernuansa Islami  kepada Kepala Negara (istrinya) dengan sebutan Boki Nursafa.15
                Walaupun didasari oleh motif penyebaran ajaran agama Islam dan politik dagang,  kehidupan rumah tangga Djafar Sadik dan Boki Nursafa berjalan harmonis. Semenjak berumah tangga, kendali Moloku Ternate tetap berada dalam genggaman Biko Nursafa. Sementara itu, kesibukan perdagangan di Kota Bandar Dagang Rua–Akerica terus berjalan lancar tanpa hambatan, telah memacu aktivitas Boki Nursafa. Ia berupaya melakukan kontak  dengan setiap pedagang yang melakukan transaksi dagang dengan pihaknya. Kesibukan itu terus menyita perhatian dan kemampuannya selaku Boki Moloku Ternate hingga kelahiran anak mereka yang pertama yang diberi nama Tjitjo Bunga alias Mansur Malamo tahun 1207 M.16
                Aktivitas Nursafa sebagai seorang Boki Moloku Ternate setelah kelahiran anak mereka yang pertama, menurunkan kemampuan aktivitasnya sebagai Boki. Dengan demikian, dua puluh tahun kemudian (1227 M) Tjitjo Bunga alias Mansur Malamo naik tahta Moloku Ternate menggantikan ibunya sebagai Moloku (Kesultanan) Ternate pertama dalam periode Islam dengan gelar Sultan. Sejak itu, gelar Kolano maupun Momole dinyatakan tidak berlaku lagi. Kendali Kesultanan Ternate yang dijalankan Tjitjo Bunga alias Mansur Malamo berjalan dengan aman dan lancar sesuai misi (Kesultanan yang rahmatan lil alamin) visi (menjalankan syariat Islam dan mempertahankan eksistensi Kesultanan Ternate dari hegemoni bangsa lain). Kenyataan itu berlangsung hingga masa kekuasaan Sultan Zainal Abidin (1486–1500).
Dalam permulaan berkuasanya Sultan Khairun alias Djamil (1558–1570) perdagangan dunia yang dimotori pedagang Islam (Arab–Persia dan Gudjarat) mulai menampakkan kemunduran. Hal demikian sangat mempengaruhi intesitas hubungan dengan pihak kesultanan Ternate. Situasi yang kurang menguntungkan itu bersamaan dengan gejala-gejala kemunduran kesultanan Turki Usmani dengan wafatnya Sultan Sulaiman al–Qanuni (1566). Akan tetapi, hubungan perdagangan antara kesultanan Ternate dengan para pedagang Nusantara (Jawa, Gowa, dan Melayu) tetap berjalan dengan lancar. 

Limau Jore-Jore (Kota Baru)
                Limau Jore-Jore (komunitas Tuboleu) merupakan nama wilayah–kota baru dari ibukota secara politik administratif pemerintahan maupun sebagai pusat operasional Bandar Dagang Kesultanan Ternate yang dipindahkan dari Rua–Akerica dan Foramadiahi Lama, berlokasi di sekitar Kelurahan Soasio, Salero, dan Kasturian sekarang. Pemberian nama untuk ibukota Kesultanan Ternate yang baru itu, berdasarkan pertimbangan keamanan dan kenyamanan oleh Sultan Sahid (1583–1606) dalam menjalankan pemerintahan dari interfensi politik bangsa Eropa. Secara diomatik, Limau Jore-Jore  berarti ‘Kota Maritim’. Dalam bahasa Ternate, kata Limau berarti ‘perkampungan penduduk yang bermukim di pesisir’, sedangkan  Jore-Jore berarti ‘pesisir yang didominasi tumbuhan sebangsa semak dan bakau.17
Sejak tahun 1952 hingga sekarang secara administratif ibukota pemerintahan dan ibukota perdagangan dipindahkan ke arah selatan dari Limau Jore-Jore sekitar 1 km, tepatnya  Kelurahan Kota Baru yang berlokasi di sekitar pelabuhan perdagangan Kota Ternate sekarang, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses sejarah Kesultanan Ternate, khususnya Limau Jore-Jore.
            Ada beberapa indikator yang dapat dijadikan acuan dalam penetapan waktu kelahiran Kota Ternate. Pertama, ibukota Bandar Dagang pertama Moloku Ternate di Rua-Akerica (komunitas Tobona) sebelum masa kekuasaan Momole Bay Guna (Boki Nursafa) sekitar tahun 1200 M sampai masa pemerintahan Sultan Sahid (1583-1606). Pada masa itu hubungan perdagangan antara kesultanan Ternate dengan pedagang asing (Arab-Persia dan Gudjarat) di samping para pedagang dari kepulauan nusantara yaitu Jawa, Gowa, dan Melayu mengalami kemajuan pesat. Hubungan ini mengalami gangguan terutama monopoli perdagangan cengkeh setelah masuknya bangsa Portugis (1512) untuk melakukan hubungan perdagangan dengan kesultanan Ternate. Keterangan ini menunjukkan bahwa aktivitas Kota Perdagangan Moloku Ternate pertama adalah pada masa pemerintahan sebelum Bay Guna sekitar tahun 1200 M. Ketika itu Moloku Ternate mengadakan kontak perdagangan pertama di luar kepulauan Nusantara dengan bangsa Cina pada masa Dinasty Tang di Kota Bandar Dagang Rua–Akerica. Kenyataan ini juga menunjukkan bahwa aktivitas Kota Ternate yang pertama adalah pada masa Kapita (pemimpin Moloku Ternate masa awal) Zaman (Tuan Zaman—ayah  Bay Guna) seperti disebutkan di atas.
           Berdasarkan apa yang telah disampaikan di atas, dapat disimpulkan bahwa hingga kini, masa aktivitas Kota Bandar Dagang Moloku Ternate terutama dihitung sejak kedatangan Pedagang dan Ulama Djafar Sadik di Kota Bandar Dagang Rua–Akerica Moloku Ternate tanggal 12 Februari tahun 1204 M. Dengan begitu, pada tanggal 12 Februari 2003 lalu usia Kota Ternate adalah 799 Tahun.
Kedua, sebagai puncak dari hubungan perdagangan yang panas antara kesultanan Ternate pada masa kekuasaan Sultan Khairun (1558-1570) dengan Portugis, pada tanggal 28 Februari 1570 di benteng Kastela telah terjadi pembunuhan atas Sultan Khairun. Benteng Kastela merupakan wilayah Kota Bandar Dagang kesultanan Ternate yang menjadi markas (pusat kekuasaan perdagangan) bangsa Portugis. Pembunuhan terhadap Sulktan Khairun membuat kevakuman kesultanan Ternate. Situasi ini memaksa Babullah (1570) naik tahta menggantikan Sultan Khairun. Kebijakan politik yang dilakukan Sultan Babullah adalah  mengusir bangsa Portugis keluar dari jalur perdagangan kesultanan Ternate termasuk wilayah politik kesultanan Ternate. Kebijakan Babullah ini didukung oleh seluruh rakyatnya. Setelah Sultan Babullah wafat (1583), tahta kesultanan Ternate dilanjutkan oleh Sultan Sahid alias Saidi Barakati (1583–1606). Sultan Sahid kemudian membuat program baru dengan memindahkan ibukota Bandar Dagang Rua–Akerica (secara administratif) ke Foramadiahi Lama (jaraknya sekitar 1 km arah barat Foramadiahi sekarang). Akan tetapi, dalam rentang masa kekuasaan Sultan Sahid, dari Banten telah tiba kapal-kapal dagang milik Belanda di Bandar Dagang Rua–Akerica (1599) yang dipimpin J.C. van Neck untuk melakukan kontak perdagangan dengan kesultanan Ternate.
           Kehadiran kapal-kapal dagang Belanda itu menimbulkan kecurigaan Sultan Sahid kerena pengalaman terbunuhnya Sultan Khairun, pendahulunya. Atas dasar pengalaman itu Sultan Sahid mengambil keputusan politik dengan memindahkan Kota Bandar Dagang Rua–Akerica dan ibukota kesultanan Ternate di Foramadiahi Lama ke ibukota kesultanan Ternate dan Kota Bandar Dagang yang baru yaitu Limau Jore-Jore, sekitar wilayah kelurahan Soasio, Salero, dan Kasturian sekarang. Wilayah ini masuk dalam komunitas Tuboleu.17
              Ketiga, Limau Jore-Jore merupakan bagian dari rencana strategis Sultan Sahid untuk mengamankan ibukota dagang dan politik kesultanan Ternate dari interfensi politik Belanda (bangsa Eropa umumnya). Setelah 326 tahun (1599–1925), yaitu masa sejak kapal-kapal dagangnya menyinggahi Kota Bandar Dagang pertama hingga masa kekuasaan Sultan Muhammad Djabir Syah (1925–1975) yang berkedudukan di Limau Jore-Jore, Belanda tetap saja melakukan interfensi politik ke dalam kekuasaan kesultanan Ternate. Ini dapat dibuktikan dengan diasingkannya Sultan Muhammad Djabir Syah dan seluruh anggota keluarganya ke Jakarta guna membendung pengaruh kekuasaan Sultan.
                Keempat, pada masa kekuasaan Sultan Muhammad Djabir Syah, situasi politik dan perdagangan kesultanan Ternate yang berpusat di Limau Jore-Jore (Kota Baru) mulai  mengalami kevakuman. Ada beberapa faktor penyebabnya. Pertama, kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Kedua, dihapusnya Swapraja kesultanan Ternate tahun 1946. Ketiga, penyerahan aset kesultanan Ternate dari ahli waris ke pemerintah Republik Indonesia tahun 1952.
             Sejak itu kekuasaan politik dan keramaian (kesibukan) Kota Bandar Dagang kesultanan Ternate yang berpusat di Limau Jore-Jore (Kota Baru) mengalami kevakuman.  Apa yang disampaikan dalam tulisan ini baru merupakan pembacaan dan pengamatan penulis terhadap teks-teks sejerah yang tersedia. Sebab itu, pengkajian ilmiah, melalui penelitian sejarah perlu dilakukan agar dipertanggawabkan keilmiahannya.






DAFTAR PUSTAKA

Badri Yatim. 1993. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

B. Sularto, Sekitar Tradisi Ternate. (Proyek pengembangan Media kebudayaan Departemen pendidikan dan kebudayaan) 1997.
                         
Dudung Abdurrahman, 1999. Metode Penelitian Sejarah. Jakarta Penerbit: Logos

Heine, Robert dan Geldern. 1972. Konsepsi Tentang Negara dan Kedudukan Raja di Asia Tenggara. Penerjemah Deliar Noer. Jakarta: C.V. Rajawali.

Henk Schulte Nordholt, Bambang Purwanto dan Ratna Saptari. Persperkif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. (KITLV-Jakarta) 2008.
L. Radjiloen. Dartan Tinggi Foramadiahi adalah Ternate-awal ke dataran rendah Limau Jore-Jore. (Ternate: Hasil Penelitian yang tidak di Publikasi), 1982.

Naidah. Tanpa Tahun. Kronik Kerajaan Ternate. Alihbahasa P. Van der Crab dengan judul Geshiedenis van Ternate, in der Ternataanschen en Maleischen Teks, beschreven door der Ternataan Naidah, met vertaling en aantekeringen door P. Van der Crab.

Mudafar Syah. Tabloid Parada edisi 6 tanggal 6 Juni 2002.

Sartono Kartodirdjo. 1982. Pemikiran dan perkembangan Historiografi Indonesia suatu Alternatif. Jakarta: PT. Gramedia
________Kartodirdjo. 1992. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia. Jakarta : PT Gramedia.
Sukiman. Harian Kompas, Sabtu 10 Juli 1999.

R. Moh. Ali. 2005.  Mengerti Sejarah. Jakarta: Penerbit. Gramedia.

Zuhdi Susanto. 2008. Metodologi Strukturistik Dalam Historiografi Indonesia :Sebuah Alternatif dalam Djoko Marhiandono (ed).Titik Balik Historiografi Indonesia. Jakarta : Wedatama Widya Sastra.
Wibawa, Samudro. 2001. Negara-Negara di Nusantara; Dari Negara-Kota hingga Negara-Bangsa; Dari Modernisasi hingga Reformasi Administrasi. Yopgyakarta: Gajah Mada University Press





1 Liamau Jore-Jore: merupakan nama wilayah–kota baru dari ibukota secara politik administratif pemerintahan maupun sebagai pusat operasional Bandar Dagang Kesultanan Ternate yang dipindahkan dari Rua–Akerica dan Foramadiahi Lama, berlokasi di sekitar Kelurahan Soasio-Salero, dan Kasturian sekarang. Pemberian nama untuk ibukota Kesultanan Ternate yang baru.  Limau Jore-Jore  berarti ‘Kota Maritim’. Dalam bahasa Ternate, kata Limau berarti ‘perkampungan penduduk yang bermukim di pesisir’, sedangkan  Jore-Jore berarti pesisir yang didominasi tumbuhan sebangsa semak dan bakau.
2 Kartodirdjo, Sartono. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia.  
( Jakarta : PT Gramedia, 1992), hal 3
3 Zuhdi, Susanto. Metodologi Strukturistik Dalam Historiografi Indonesia :Sebuah Alternatif dalam Djoko Marhiandono (ed).Titik Balik Historiografi Indonesia. (Jakarta : Wedatama Widya Sastra, 2008), hal 1
4 R. Moh. Ali, Mengerti Sejarah.( Jakarta: Penerbit. Gramedia 2005) hlm 37.
5 Sartono Kartodirdjo, Pemikiran dan perkembangan Historiografi Indonesia suatu Alternatif (Jakarta: PT. Gramedia 1982), hlm  XIV
6 Dudung Abdurrahman, Metode Penelitian Sejarah. (Jakarta Penerbit: Logos 1999). hlm:67
7  Sukiman. Harian Kompas, Sabtu 10 Juli 1999. hlm 5
8  Henk Schulte Nordholt, Bambang Purwanto dan Ratna Saptari. 2008. Persperkif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. (KITLV-Jakarta), hlm 2
8 Wibawa, Samudro. 2001. Negara-Negara di Nusantara; Dari Negara-Kota hingga Negara-Bangsa; Dari Modernisasi hingga Reformasi Administrasi. Yopgyakarta: Gajah Mada University Press), hlm 47
9  P. Van der Crab, Geshiedinis van Ternate, in der Ternataanschen en Maleischen Teks, beschreven door der Ternataan Naidah, met vertaling en aantekeringen. Volume II tanpa tahun
10 Mitos Bidadari Mandi:  adalah mitos kelahiran kerajaan di Maluku, lihat juga dalam karangan M. Adnan Amal. Kepulauan rempah-rempah Perjalan Sejarah Maluku Utara 1250-1950. Penerbit (Jakarta KPG: Kepustakaan Populer Gramedia) 2010. hlm  15.
11 Tabloid Parada edisi 6 tanggal 6 Juni 2002, hlm 5
12 Momole, Dalam Bahasa Ternate Kata Mo- adalah ‘Pemarkah Persona Ketiga Tunggal Perempuan’, Sedangkan Kata Mole Berasal Dari Kata Tomole ‘Seseorang yang Memiliki Kesaktian Tinggi’; dan Terjemahan idIomatik Momole adalah ‘Pemimpin Perempuan yang Memiliki Kesaktian Tinggi Dalam Kepemimpinan’.
13  Kolano adalah Penyebutan Sultan/ Raja dalam masyarakat Ternate sebelum memeluk Islam, setelah Islam gelar Kolano di Ganti dengan nama Sultan.
14  L. Radjiloen, 1982. Dartan Tinggi Foramadiahi adalah Ternate-awal ke Dataran Rendah Limau Jore-Jore. (Ternate: Hasil Penelitian yang tidak di Publikasi), hlm 15.
15  B. Sularto, 1997. Sekitar Tradisi Ternate. (Proyek pengembangan Media kebudayaan Departemen pendidikan dan kebudayaan), hlm 10.
16 B. Sularto, Op., Cit. hlm  18
17 L. Radjiloen, Op., Cit. hlm 20
17  M. Jusuf Abdulrahman, 2001. Ternate Bandar Jalur Sutra. (penerbit: Lembaga Informasi dan Transformasi social), hlm 90

Tidak ada komentar:

Posting Komentar