Halaman

Rabu, 16 Januari 2013

Perbandingan antara ‘Asian Values’ and Southeast Asian Historian oleh T.N. Harper Dan The Survival of “Asian Values” as “Zivilisationskritik” oleh Mark R. Thompson


Nama              : Arum Vitasari
NIM                 : 12/339811/PSA/7357

     Dalam membandingkan kedua judul jurnal tersebut di atas, saya akan mencoba menjabarkan masing-masing jurnal terlebih dahulu. Pertama adalah jurnal karya T.N. Harper, yakni “Asian Values’ and Southeast Asian Historian”. Di dalam jurnalnya tersebut, Harper menyebutkan bahwa selama pendudukan bangsa Eropa di Asia selama kurang lebih lima ratus tahun telah membangkitkan hal yang disebut “Asian values”, yang kemudian menjadi sebuah landasan historis untuk menyatakan posisi mereka, terutama setelah perang dingin. ‘Asian values’ tersebut pertama kali diungkapkan oleh mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahatir Mohammad dan mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew. Teori yang terdapat di dalamnya memuat perbedaan antara filosofi, agama, budaya antara bangsa Barat dan Timur. Di mana teori tersebut memuat sifat-sifat orientalisme yang kuat.
Harper menyebutkan, bahwa menurut seorang pejuang pada masa perang dingin, Samuel Huntington menyebutkan bahwa “Asian values” dapat didefinisikan sebagai perpaduan antara Islam dan Konfusianisme, serta menyebutnya sebagai ‘the clash of civilisation’. Namun, menurut Harper, banyak dari hal yang disampaikan oleh Huntington tidak tepat. Menurut Harper, “Asian values” adalah penolakan dari adanya sejarah Barat yang pernah menduduki sebagian besar wilayah Asia, yakni di mana pada masa kini Asia Tenggara dapat berdiri dengan hegemoni ekonomi yang mandiri. Di mana sejarah pendudukan Barat beserta dengan pengaruh setelah masa kolonial tersebut ditolak. Hanya saja, kekurangan yang ada dalam “Asian values” tersebut melupakan, bahwa sebenarnya mereka membawa ilmu dari masa kolonialisme, yakni ilmu Barat bahkan hingga masa modernisasi ini.
Sejarah nasional juga disebut-sebut sebagai bagian dari “Asian values” dalam hal ini. Di mana peninggalan sejarah dan sejarah itu sendiri merupakan hal yang penting. Tentu saja hal ini kemudian menarik garis lurus dengan adanya kolonialisme di masa lalu, yakni kolonialisme yang menciptakan terjadinya revolusi. Ian Proudfoot menyebutkan bahwa, “now, many of the transtition of European rule are being interrogated more deeply: especially the dynamic interplay of colonial and local knowledge; the invantions of tradition, the contested modernity within each. Dalam hal ini yang disebut dengan kolonial modern dan anti-kolonial nasionalis memang tidak dapat dihindarkan lagi. Namun, bagaimanapun sejarah tidak dapat dipisahkan dalam perkembangan sebuah bangsa, termasuk bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Di mana mereka dihubungkan oleh adanya sejarah Melayu yang dapat dikatakan sebagai akar dari budaya yang ada sekarang.
Berikutnya, dalam jurnal karya Mark R. Thompson, yakni “The Survival of “Asian Values” as “Zivilisationskritik” ” lebih banyak menyoroti mengenai perkembangan ekonomi yang terjadi di Asia dalam pengaruh “Asian Values” dan membandingkannya dengan ideologi yang dianut oleh Jerman sebagai bangsa Eropa. “Asian Values” di sini adalah bentuk dari adanya krisis ekonomi yang terjadi khususnya pada Asia Tenggara, di mana “Asian Values” digunakan sebagai strategi pendukung penyelamatan ekonomi. Selain berhubungan dengan masalah ekonomi, “Asian Values” juga berhubungan dengan masalah politik. “Asian Values” sendiri lebih banyak digunakan di Malaysia dan Singapura, yang disebutkan oleh Thompson, sebagai akibat buruk dari modernisasi.

Jurnal ini juga menyebutkan hubungannya dengan perkembangan ekonomi Jerman yang berdifusi ke Asia. Norbert Elias menyampaikan, bahwa “civilizing process” lebih banyak mengikuti berbagai logika di Jerman dibandingkan dengan yang ada di Perancis ataupun Inggris. Hal ini berkaitan dengan demokrasi yang merupakan bagian dari “Zivilisationskritik”. Di sebutkan bahwa “Asian values” merupakan bentuk dari “Zivilisationskritik” yang dibedakan dari modernisasi “Westernization”. Dalam hal tersebut “Asian values” diklaim memiliki jalur yang berbeda sebagai non-Barat dalam dunia modern. Thomson menyebutkan juga kaitan “Asian values” sebagai entitas budaya politik tradisional, yakni Islam di Malaysia dan Cina, dalam hal ini adalah konfusianisme di Singapura.

Menilik dari kedua jurnal tersebut, saya menangkap beberapa hal yang bisa saya katakan sebagai benang merah. Selain keduanya membahas mengenai “Asian values”, namun kedua jurnal tersebut masih berada dalam porsinya masing-masing. Di mana “Asian values”  dijelaskan dalam kaitan secara sejarah, juga mengenai bahasan “Asian values” dalam bidang ekonomi khususnya. Keduanya juga sama-sama mengemukakan bahwa “Asian values” sebagai identitas yang tidak bisa dipisahkan dari yang disebut sebagai orientalisme. Budaya Ketimuran yang dapat dilihat melalui Islam dan Konfusianisme di dalam “Asian values” yang dirujuk kedua jurnal tersebut. Dari kedua jurnal tersebut, dapat dilihat, bahwa “Asian values” dapat dilihat dari berbagai segi, yakni sejarah, politik, budaya, maupun ekonomi.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar