Laman

Senin, 07 Januari 2013

TEORI MAHAN DAN SEJARAH KEPULAUAN INDONESIA J.C. Van Leur dan F.R.J. Verhoeven

Nama : Irfan Ahmad
NIM    : 12/338870/PSA/07247
         Dalam artikel ini memukakan bahwa pada dasarnya dunia maritim juga sangan penting untuk dibahas  dalam penulisan sejarah, dikemukakan oleh Alfred Thayer Mahan (1840-1914), dalam teorinya yang dituangkan dalam artikel ini yang sangat berpengaruh dan menarik perhatian bagi tokoh-tokoh penting, yang berada di Eropa seperti Amerika, Inggris, Prancis serta di luar Eropa seperti Indonesia. Menurut  Mahan setidaknya ada enam unsur yang dapat menentukan perkembangan suatu negara, yaitu kondisi geografi, bentuk tanah dan pantainya, luas wilayah, jumlah penduduk, karakter penduduk, dan sifat pemerintahannya. “para sejarawan pada umumnya tidak mengenal keadaan laut, karena mereka tidak menaruh perhatian khusus terhadapnya. Selain itu mereka juga tidak mempunyai pengetahuan khusus tentang laut, dan mereka tidak mengindahkan pengaruh kekuatan ini yang sangat menentukan jalannya peristiwa besar dunia”. Pernyataan Mahan, dimaknai sebagai keperihatinan dan  tantangan serta  kewajiban bagi  para sejarawan. Bahkan seolah ia hendak mengajak kita untuk memberi porsi yang pantas bagi laut dalam kajian sejarah, dengan merujuk pada asumsi bahwa sederet peristiwa besar dunia tidak luput dari peran vital dunia maritim (laut).  Teori Mahan pada dasarnya digunakan untuk sesuatu yang positif dalam mendayagunakan potensi laut bagi suatu negara, namun seiring dengan adanya politik kekuasaan di dunia maka teori tersebut telah disalahgunakan hingga memunculkan perang dunia yang membahayakan kehidupan umat manusia.

         Paparan Mahan ini lebih menunjukkan untuk pengembangan kekuatan laut Amerika, karena keenam hal itu ada pada Negara tersebut. Penyebaran pengaruh teori Mahan rupanya tidak terbatas pada Amerika, namun hal tersebut juga terdapat di wilayah lain, dalam beberapa waktu kemudian teori itu telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa diantaranya; Jerman, Jepang, Perancis, Italia, Rusia, serta  Spanyol, dalam hal ini maka Jerman dan Jepang mendapat sebuah inspirasi dan membuat kekuatan angkatan laut. pengadopsian teori Mahan seiring dengan kemajuan zaman maka telah terjadi suatu bencana besar, terjadi perang dunia I dan II. Teori Mahan pada dasarnya digunakan untuk sesuatu yang positif dalam mendayagunakan potensi laut bagi suatu negara, namun seiring dengan adanya politik kekuasaan di dunia maka teori tersebut telah disalahgunakan hingga memunculkan perang dunia sehingga peristiwa tersebut telah membawa kehancuran bagi umat manusia di muka bumi ini. Presiden Theodore Roosevelt (1901-1909) dan Henry Cabot Lodge (senat). Amerika mulai menganut politik ekspansi ke seberang lautan dengan menggunakan teori Mahan mereka menarik dukungan rakyat. Sejak tu Amerika lahir sebagai salah satu kekuatan dunia yang berpengaruh di dunia. Tak salah bila B. Downs (books that changed the world) memasukan buku karangan Mahan tadi menjadi buku yang merubah wajah dunia. Hal yang sama juga  terjadi pada Belanda dengan berdirinya VOC yang tak lepas dari pengaruh teori Mahan. VOC bukan hanya  “persekutuan dagang” tapi juga sebagai armada perang maritim yang besar, untuk mematahkan kekuatan Spanyol dan Portugis, jadi tidak tepat kalau kita menyebut, VOC didirikan semata-mata untuk kepentingan perdanganagan saja, karena barang daganagan hanya menempati sebagian kecil bila dibandingkan dengan jumlah amunisi yang diangkutnya. Tak bisa di pungkiri, bahwa perkembangan maritim  baik dari segi kekuatan armada perang laut, perdagangan, memberikan sentuhan sejarah dunia.

          Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat diambil suatu kesimpulan, seiring dengan adanya teori Mahan maka sudah seharusnya Indonesia sebagai negara kepulauan harus mendayagunakan potensi laut dan menciptakan kekuatan baru untuk mengamankan laut yang ada. Berbagai hasil  laut juga menjadi peranan penting atas sumber kekayaan alam bagi negara kepulauan, Potensi laut nampaknya telah terabaikan dan sengaja dilupakan dalam paradigma yang ada selama ini di Indonesia, oleh karena itu perlu bicarakan suatu konsep baru tentang kesadaran manusia terhadap potensi kelautan yang kita miliki di negara ini. Hal tersebut bila dikaitkan dengan Negara Indonesia maka secara singkat bisa dikatakan bahwa sejarah maritim pada kenyataannya merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dengan penulisan sejarah Indonesia atau historiografi Indonesia baik terkait dengan ekonomi, politik, pertumbuhan dan perkembangan kota, masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara, pertumbuhan dan perkembangan kerajaan, migrasi atau mobilitas penduduk, dan sebagainya. 

         Komentar saya setelah mambaca artikel tersebut, dari kedua karangan ini saling bertolak belakang seperti halnya  Van Leur lebih menekan pada teori Mahan yang mengatakan bahwa kompeni didirikan hanya untuk kepentingan perdagangan menurut Verhoeven itu tidak tepat karna ternyata barang dagangan yang dibawah itu hanya sebagain kecil saja, bila dibandingkan dengan amunisi yang diangkutnya. Jadi menurut Verhoeven kompeni telah tumbuh menjadi alat perang di laut menjadi suatu kekuatan maritim yang besar di Asia. Namun pada dasarnya kedua tulisan ini diadopsi dari teori Mahan itu sendiri. Mangapa karna dari tulisan kedua tokoh ini, enam unsur yang disampaikan oleh Mahan menggambarkan tentang situasi  dan kondisi yang terjadi semasa pemerintahan VOC di perairan Indonesia. Dalamlhal ini adalah sebuah teori (seperti halnya teori Mahan) sudah selayaknya untuk diterapkan dalam hal-hal yang positif, bukan seperti penyalahgunaan teori Mahan yang akhirnya menjadi dampak negatif  bagi umat manusia. Dengan demikian maka perlulah adanya kesadaran pribadi bagi manusia agar dapat menciptakan perkembangan ilmu pengetahuan yang lebih berkembang, disertai dengan upaya untuk dapat mewujudkan kehidupan umat manusia yang bersifat dinamis dan kompetitif dengan cara yang sehat dan professional.



 J.C. Van Leur dan F.R.J. Verhoeven. Teori Mahan Dan Sejarah Kepulauan Indonesia.
Diterjemahkan dengan Pengawasan Dewan redaksi, Oleh: Kartini Abubakar. Bhratara-Jakarta 1974.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar